Soalparigi.id – Langit Desa bertetangga Avulua dan Uwevolo yang berada di dua kecamatan berbeda, Parigi Utara dan Siniu, masih diselimuti kepulan asap di beberapa titik akibat api yang masif dan tersebar. Tercatat lima hari sudah kebakaran hutan dan lahan di dua desa tersebut terjadi dan api pun belum benar-benar padam.
Usai mendapat sorotan dari sejumlah warga melalui kanal media sosial dan pemberitaan media, harapan datang melalui kunjungan langsung Bupati dan Wakil Bupati beserta unsur Forkopimda Parigi Moutong ke titik posko dan titik api, Kamis (06/02/26).
Bupati Parigi Moutong, Erwin Burase, melalui kunjungan yang disaksikan awak media, melihat langsung kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Uwevolo. Ia menyaksikan langsung titik api, kondisi sungai yang nyaris mengering, serta ikhtiar warga menyelamatkan sisa kebun milik mereka menggunakan alat hand spray pribadi hingga wadah jerigen berisi lima liter untuk melawan titik api yang kian liar dan berpindah mengikuti arah mata angin.
Melalui amatan di lapangan, Bupati juga mengamati langsung titik air sungai yang masih berpeluang dibuat menjadi kubangan dan meminta dinas teknis mengerahkan alat mesin alkon untuk membantu pemadaman titik api terdekat.
Di tengah kepulan asap yang tak bisa ditembus iring-iringan pejabat, sejumlah warga dengan tatapan kosong menyampaikan sedikit curahan hati kepada pemangku kebijakan.
“Apa kitorang mau kasih makan keluarganya kita dalam rumah,” ucap seorang ibu pemilik kebun dengan suara lirih, disaksikan rombongan pejabat yang tengah melakukan kunjungan ke lokasi.
Di lokasi yang sama, nada keikhlasan setelah berupaya keras bertahan dari ganasnya api juga terucap dari salah seorang pemilik kebun. Lahan produktif seluas empat hektare miliknya hangus terbakar, bersamaan dengan pondok kebun yang baru ia dirikan.
“Kalau itu satu tempat (kebun) sekitar hampir sepuluh, cokelat sambung (tanaman kakao) 3.500 persegi, mau diapa sudah,” tutur Papa Hadi.
Sementara itu, Bupati Parigi Moutong Erwin Burase kepada awak media usai meninjau langsung titik api menyampaikan bahwa upaya penanganan karhutla saat ini masih dilakukan secara manual, mengingat kondisi medan yang sulit dijangkau kendaraan serta faktor angin yang cukup kencang sehingga berpotensi memperbesar kobaran api dan membahayakan warga di sekitar lokasi.
“Kalau kita lihat kondisi medan tadi, kendaraan memang tidak bisa naik ke atas. Sementara api dan angin cukup kencang, setiap saat bisa membesar dan membahayakan masyarakat yang mendekat ke titik api. Karena itu, kita antisipasi dengan menyiapkan mesin alkon. Di lokasi ada aliran air yang masih bisa kita tampung, sehingga kita pasang alkon untuk menyedot air menggunakan selang panjang,” jelas Bupati.
Ia juga menyoroti keterbatasan peralatan yang digunakan masyarakat dalam upaya pemadaman awal. Menurutnya, warga masih menggunakan peralatan seadanya seperti jerigen untuk mengambil air secara manual, sehingga pemerintah daerah berupaya memperkuat dukungan peralatan di lapangan.
“Kita lihat masyarakat dengan apa adanya, naik turun mengambil air pakai jerigen. Karena itu, dari Dinas Pertanian kita juga sedang dalam perjalanan membawa bantuan spray hand yang akan diserahkan kepada pemerintah desa dan masyarakat agar siaga menjaga titik-titik rawan supaya api tidak melebar,” ujarnya.
Lebih lanjut, Bupati Erwin Burase menyebutkan bahwa koordinasi dengan pemerintah pusat terus dilakukan. Informasi terkait dukungan penanganan karhutla dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) disebut telah disetujui dan saat ini masih dalam proses administrasi.
“Informasi dari BNPB sudah disetujui, hanya memang masih berproses. Alhamdulillah, dengan dukungan DPR RI, khususnya Komisi VIII, Pak Martindas bersedia membantu. Kita upayakan dalam satu sampai dua hari bantuan sudah bisa datang. Yang kita butuhkan saat ini adalah peralatan pemadaman manual seperti yang digunakan tim Manggala Agni, termasuk alat pelindung diri tahan panas,” katanya.
Selain fokus pada pemadaman, Bupati juga memastikan pemerintah daerah mulai melakukan pendataan terhadap kerugian masyarakat akibat kebakaran.
“Saya sudah mengutus Sekda untuk menyampaikan ke camat dan kepala desa agar segera mendata kebun masyarakat, berapa luasnya, siapa pemiliknya, dan apa isi kebunnya. Insyaallah pemerintah daerah akan membantu. Kita kasihan, ada yang sampai 10 hektare kebunnya siap panen. Ini harus kita pikirkan bersama berapa kerugiannya,” ungkapnya.
Ia menambahkan, berdasarkan data sementara hingga Rabu, 4 Februari, luas lahan yang terdampak kebakaran mencapai sekitar 40 hektare. Sementara informasi dari pemerintah provinsi melalui pemantauan satelit menunjukkan luasan bisa mencapai sekitar 90 hektare, sehingga diperlukan verifikasi dan pendataan lanjutan di lapangan.






