Mohamad Irwan Lapatta dan PD SATRIA Sulteng: Menjaga Api Semangat Pengabdian

Momen Keakraban Ketua DPD Gerindra Sulteng (kiri) bersama Ketua PD SATRIA Sulteng Mohamad Irwan Lapata (kanan) / Foto: IST

Soalparigi.id – Di sebuah ruangan di kantor Partai Gerindra di Jalan Elang, Palu, akhir pekan itu terasa lebih hening dari biasanya. Di tengah hiruk-pikuk Rapat Kerja Daerah (Rakerda) DPD Gerindra Sulawesi Tengah, 14–15 Februari 2026, hadir memantik perhatian sebuah cerita tentang pilihan, pengabdian, dan langkah baru seorang tokoh lama. Mohamad Irwan Lapatta, satu nama dan momen itu bukan sekadar agenda politik, melainkan titik di mana api pengabdian dijaga agar tetap menyala, meski jalannya kini berbeda.

Ketua DPD Partai Gerindra Sulawesi Tengah, Longki Djanggola, membuka Rakerda dengan nada yang cair namun tegas. Di hadapan kader dan pengurus, ia menyampaikan sambutan resmi atas bergabungnya tokoh politik Sulawesi Tengah ke dalam keluarga besar Gerindra. Bukan sekadar pengumuman, tetapi sebuah isyarat konsolidasi yang disengaja dirancang untuk menguatkan struktur dan semangat kolektif partai di daerah.

Ada satu sapaan yang mencuri perhatian. Longki secara khusus menyapa Mohamad Irwan Lapatta sebagai “adik”. Sapaan personal itu disertai apresiasi terbuka atas keputusan Irwan untuk bergabung. Gestur tersebut menegaskan bahwa politik, dalam momen tertentu, bekerja bukan hanya lewat struktur, tetapi juga relasi dan kepercayaan. Di panggung Rakerda, kehadiran Irwan dibaca sebagai simbol perjumpaan pengalaman lama dengan mesin organisasi yang tengah diperkokoh.

Longki kemudian memperjelas jalur masuk Irwan. Ia menegaskan bahwa Irwan bergabung melalui SATRIA (Satuan Relawan Indonesia Raya) sebagai organisasi sayap resmi Partai Gerindra. 

Penegasan ini penting. Bagi Longki, penguatan partai tak melulu harus dimulai dari kartu tanda anggota inti, sayap partai justru menjadi ruang strategis untuk memperluas jangkauan, menyerap energi baru, dan membangun kerja-kerja kerakyatan yang berdampak langsung.

Di titik inilah Rakerda 2026 menemukan konteksnya. Kehadiran tokoh baru bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari desain konsolidasi. Struktur diperkuat, jaringan diperluas, dan peran-peran baru disiapkan untuk menjawab tantangan politik ke depan di Sulawesi Tengah.

Usai sambutan ketua DPD, giliran Mohamad Irwan Lapata angkat bicara. Dengan nada tenang dan terukur khas mantan Bupati Sigi dua Periode itu, ia menyampaikan klarifikasi mengenai status dan mandat yang kini diembannya. Irwan mengungkapkan bahwa dirinya telah menerima kepercayaan untuk menyusun struktur kepengurusan SATRIA Sulawesi Tengah. Mandat itu, menurutnya, adalah tugas organisasi yang harus diselesaikan secara serius dan bertahap.

Irwan menegaskan posisinya saat ini berada di ranah sayap partai. Secara administratif, ia menyatakan belum menjadi anggota partai politik Gerindra sebagai kader inti ber-KTA. Fokusnya, untuk sementara, adalah memastikan organisasi sayap berjalan efektif, tertata, dan selaras dengan garis besar perjuangan Partai. Kejelasan ini disampaikannya untuk menghindari tafsir yang keliru sekaligus menegaskan komitmen pada mekanisme organisasi.

Struktur kepengurusan SATRIA Sulawesi Tengah yang telah disusunnya, lanjut Irwan, akan segera dikirimkan ke Dewan Pimpinan Pusat (DPP) untuk mendapatkan pengesahan. Proses administratif ini menjadi langkah penting agar kerja-kerja organisasi memiliki legitimasi dan arah yang jelas dari pusat hingga daerah.

Di balik langkah itu, ada keputusan personal yang tak ringan. Irwan menyebut bahwa pilihannya kini diambil setelah ia resmi mengundurkan diri dari Golkar pada Desember 2025. Bagi Irwan, perpindahan wadah bukan soal berhenti mengabdi, melainkan mencari ruang baru untuk tetap berkontribusi bagi masyarakat. SATRIA, dalam pandangannya, menjadi medium untuk menjaga kesinambungan pengabdian tersebut.

Rakerda DPD Gerindra Sulawesi Tengah 2026 pun berakhir dengan satu kesan kuat, konsolidasi bukan hanya tentang barisan yang rapi, tetapi juga tentang keberanian membuka ruang, mengelola transisi, dan menyiapkan dampak. Di Palu, selama dua hari itu, politik lokal menunjukkan wajahnya yang dinamis serta kompak dalam tujuan, bergerak dalam struktur, dan diarahkan untuk memberi dampak nyata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *