Di Tengah Asap Karhutla dan Kemarau, Wakil Bupati Parigi Moutong Berbaur dengan Pelajar Memohon Hujan

Wakil Bupati Parigi Moutong memberikan sambutan usai shalat istisqa di SMAN 1 Parigi Utara / Foto : IST

Soalparigi.id — Pagi itu, halaman SMA Negeri 1 Parigi Utara tidak sekadar menjadi ruang upacara atau aktivitas belajar. Hamparan langit yang pucat dan udara kering yang terasa berat membawa suasana berbeda. Ratusan siswa berseragam putih abu-abu duduk berbaris rapi, sebagian menunduk, sebagian lagi menatap jauh ke atas, seolah mencari jawaban pada awan yang tak kunjung datang.

Di antara barisan pelajar, tampak Wakil Bupati Parigi Moutong, Abdul Sahid. Tanpa sekat protokoler yang kaku, ia hadir, duduk bersama masyarakat dan kalangan sekolah. Tidak ada pidato panjang, tidak pula seremoni berlebihan. Kehadirannya pagi itu lebih menyerupai seorang warga yang datang membawa harapan yang sama: hujan.

Sholat istisqa berjamaah yang digelar di halaman sekolah tersebut lahir dari kegelisahan bersama. Musibah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Siniu dan wilayah sekitarnya telah menimbulkan kecemasan. Cuaca kering yang berkepanjangan, suhu udara yang meningkat, serta kabar tentang titik api membuat banyak pihak merasa perlu melakukan ikhtiar, tidak hanya secara teknis, tetapi juga spiritual.

Sejak matahari belum sepenuhnya meninggi, siswa dan siswi mulai memenuhi halaman. Para guru berdiri di sisi barisan, memastikan seluruh rangkaian ibadah berjalan tertib. Tidak ada kegaduhan khas remaja sekolah. Yang terdengar hanya bisik pelan, gesekan langkah kaki, dan hembusan angin kering yang sesekali menyapu pelataran.

Bagi sebagian pelajar, ini mungkin pengalaman pertama mengikuti sholat istisqa. Namun di wajah-wajah muda itu, tersirat keseriusan yang jarang terlihat dalam rutinitas harian sekolah. Mereka memahami, doa yang dipanjatkan pagi itu bukan sekadar ritual, melainkan harapan nyata bagi daerah mereka.

Baca: Karhutla di Parigi Moutong Capai 147 Hektare: 334 Personel Gabungan Disebar, Kerugian Lahan Perkebunan dalam Pendataan

Abdul Sahid datang tanpa jarak. Ia menyapa guru, menyalami tokoh agama, lalu mengambil posisi di antara jamaah. Di tengah kondisi yang penuh keprihatinan, kehadirannya menjadi simbol bahwa pemerintah daerah tidak berdiri jauh di balik meja, melainkan hadir bersama masyarakat.

Dalam keheningan sebelum sholat dimulai, suasana terasa syahdu. Langit tetap cerah, tanpa tanda mendung. Tetapi di bawahnya, ratusan tangan terangkat, ratusan kepala tertunduk. Doa-doa mengalir, membawa harapan agar hujan segera turun dan kobaran api di hutan-hutan Siniu dapat padam.

Usai sholat, Wakil Bupati menyampaikan pesan singkat. Tidak dengan nada formal, melainkan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Ia berbicara tentang kebersamaan, tentang ujian alam, dan tentang pentingnya ikhtiar dalam berbagai bentuk.

“Musibah ini adalah pengingat bagi kita semua. Kita berusaha dengan cara yang kita mampu, termasuk melalui doa bersama. Semoga Allah SWT segera menurunkan hujan dan melindungi masyarakat,” ujarnya.

Kata-kata itu tidak disambut tepuk tangan, melainkan anggukan dan keheningan yang sarat makna. Di tengah situasi karhutla, masyarakat memang tidak membutuhkan retorika. Mereka membutuhkan kehadiran, empati, dan rasa kebersamaan.

Inisiatif SMAN 1 Parigi Utara menggelar sholat istisqa juga menyimpan pesan tersendiri. Sekolah tidak hanya berperan sebagai tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang menanamkan nilai-nilai kepedulian sosial. Para guru menyadari, generasi muda perlu diajak memahami bahwa bencana lingkungan bukan peristiwa yang jauh dari kehidupan mereka.

Seorang guru yang turut hadir mengungkapkan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari pendidikan karakter. Di tengah ancaman karhutla, siswa diajak belajar tentang empati, tanggung jawab, dan kesadaran menjaga alam.

Karhutla di Kecamatan Siniu dan sekitarnya bukan sekadar angka dalam laporan. Di baliknya, ada kekhawatiran petani, kecemasan orang tua, serta risiko kesehatan akibat asap. Ada pula kerja keras petugas di lapangan yang berjibaku memadamkan api di tengah keterbatasan.

Namun pagi itu, di halaman sekolah yang sederhana, narasi tentang bencana berubah menjadi kisah kebersamaan. Pelajar, guru, tokoh agama, masyarakat, dan pemerintah duduk dalam satu saf, menanggalkan perbedaan peran dan jabatan.

Langit mungkin belum langsung menjawab. Awan belum serta-merta datang. Tetapi sholat istisqa itu telah menghadirkan sesuatu yang tak kalah penting: harapan yang dirawat bersama.

Di akhir kegiatan, para siswa kembali ke kelas, para guru ke ruang belajar, dan Wakil Bupati melanjutkan agenda pemerintahan. Namun jejak pagi itu tertinggal sebagai pengingat bahwa di tengah musibah, kehadiran dan kebersamaan sering kali menjadi peneduh pertama sebelum hujan benar-benar turun.

Bagi masyarakat Parigi Moutong, terutama warga Kecamatan Siniu, doa-doa yang dipanjatkan di halaman SMAN 1 Parigi Utara menjadi cerminan ikhtiar kolektif. Sebuah keyakinan bahwa di tengah asap dan kemarau, selalu ada ruang untuk berharap, berdoa, dan saling menguatkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *