Soalparigi.id – Lapangan hijau itu menjadi saksi lahirnya satu nama yang kini menggema dari tribun hingga garis tengah. Di tengah sorak penonton dan ketegangan pertandingan, seorang striker tampil mencuri perhatian.
Dialah Urim Bakka, ujung tombak ISBA Binangga yang menunjukkan kelasnya sebagai predator sejati di kotak penalti.
Sejak peluit awal dibunyikan, pergerakan Urim tampak berbeda. Tidak banyak membuang energi, namun selalu berada di posisi yang tepat. Satu sentuhan, satu peluang, satu gol. Naluri mencetak golnya terasa alami, seolah bola selalu menemukan jalan ke kakinya.
Finishing yang dingin dan presisi membuat barisan pertahanan lawan kewalahan.
Dalam ruang sempit sekalipun, Urim mampu membaca celah dan mengeksekusi peluang dengan tenang. Gaya bermainnya mengingatkan publik pada sosok Sergio Agüero, legenda Manchester City dan ikon Timnas Argentina, yang dikenal tajam dan efisien di depan gawang.
Tak heran jika di akhir laga, Urim dinobatkan sebagai Best Player. Ia juga berhak atas penghargaan Bola Emas pertandingan simbol supremasi individu dalam laga Gubernur Cup BERANI tahun 2026. Namun lebih dari sekadar trofi, yang membuatnya istimewa adalah pengaruhnya terhadap ritme permainan.
Urim bukan hanya pencetak gol. Ia penentu arah serangan. Setiap pergerakannya membuka ruang bagi rekan setim, setiap sentuhannya memantik semangat tim.
Ketika tekanan meningkat, ia justru tampil paling tenang. Ketika peluang terasa mustahil, ia mengubahnya menjadi angka di papan skor.
Isba Binangga tidak hanya menjadi Juara. Ini tentang ditemukannya sosok sentral baru. Sosok yang tak hanya mencetak gol, tetapi juga menumbuhkan harapan.
Jika konsistensi, ketajaman, dan pengaruh dalam permainan menjadi ukurannya, maka julukan itu tampaknya bukan sekadar pujian melainkan ekspektasi besar yang mulai menemukan jawabannya.





