Kalah oleh Api, Bukan Keadaan: Pekebun Uevolo Relakan Empat Hektare Kebunnya di Balik Karhutla Parigi Moutong

Pak Rohim atau kerap disapa Papa Hadi Pekebun Desa Uwevolo yang jadi korban ganasnya Karhutla Parigi Moutong / Foto : RONI

Soalparigi.id – Siang itu, Senin, sekitar pukul 11.00 WITA, Pak Rohim masih berada di kebunnya di Desa Uevolo. Ia menyiram pohon durian menggunakan alkon, seperti hari-hari biasa. Tak ada firasat bahwa rutinitas sederhana itu akan menjadi detik terakhir kebunnya masih utuh. Asap pertama kali terlihat bukan olehnya, melainkan oleh sang istri.

Ia mengira asap itu berasal dari kebun lain. Namun ketika menoleh ke arah Avulua, api sudah membesar dan bergerak turun dengan cepat. Waktu seolah tidak memberi ruang untuk berpikir panjang. Selang air yang hendak diambil tak lagi berarti apa-apa, api sudah terlalu dekat.

“Tidak sempat diantisipasi,” ujarnya dengan nada ikhlas. Api sudah menjalar, ia dikalahkan oleh liarnya si jago merah yang berpindah tak kenal tempat, dan sejak saat itu, ia hanya bisa menyaksikan keadaan bahwa api telah menguasai kebun miliknya.

Baca : Jadi Perhatian Serius, Karhutla di Desa Avulua Parigi Moutong Diprakirakan Capai 42 Hektare

Dalam waktu singkat, empat hektare kebun miliknya habis terbakar. Dari total sepuluh hektare lahan yang ia kelola, hampir setengahnya musnah dilalap api. Kebun itu bukan kebun kosong. Di sana tumbuh durian, pala, alpukat, cengkeh, mangga arumanis, hingga cokelat. Sebagian tanaman sudah berbuah, sebagian lainnya memasuki usia remaja—fase yang justru paling dinanti pekebun. Dan kini api pun seakan tak mau tunduk dari berbagai upaya yang dirinya lakukan.

“Empat hektar yang terbakar itu semua tanaman habis terbakar juga,” ujar Rohim. Tidak ada yang tersisa. Pohon durian dan cokelat yang bertahun-tahun dirawat berubah menjadi arang.

Kerugian itu tak berhenti pada tanaman. Sebuah pondok permanen yang berdiri di tengah kebun juga ikut habis. Pondok itu baru dua bulan dibangun, dengan anggaran sekitar Rp20 juta. Kayu delapan kubik yang menjadi rangkanya lenyap tanpa sisa. Hanya seng tersisa yang menjelma menjadi saksi bisu dari bangunan yang pernah menjadi tempat beristirahat dan berteduh.

Banyak saksi mata melihat bagaimana pondok itu dilalap api. Lokasi kebun yang berjarak sekitar satu setengah kilometer dari desa, meski bisa ditembus dengan sepeda motor, membuat upaya penyelamatan nyaris mustahil dilakukan ketika api sudah membesar.

Hingga kini, api belum sepenuhnya padam. Sebagian titik masih aktif. Harapan Rohim tertuju pada enam hektare kebun yang tersisa itulah satu-satunya yang masih bisa diselamatkan, meski ancaman belum benar-benar pergi.

Ia bahkan belum mampu menghitung berapa ratus pohon yang musnah. Bukan karena tak peduli, tetapi karena keadaan tak memberi kesempatan. Api bergerak lebih cepat daripada hitungan apa pun.

Di balik Karhutla yang menghanguskan puluhan hektare lahan, kisah Rohim menggambarkan wajah lain dari bencana, kehilangan yang datang tiba-tiba, tanpa sempat disiapkan, tanpa ruang untuk menyelamatkan hasil jerih payah bertahun-tahun. Kebunnya mungkin habis, tetapi ketenangannya di tengah musibah justru menjadi cermin keteguhan seorang pekebun yang hanya bisa berharap api berhenti, dan hidup bisa dimulai kembali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *