Soalparigi.id – Karpet hijau itu menjadi saksi. Di atasnya, dua umarah duduk bersila, menanggalkan segala atribut kebesaran yang melekat pada jabatan. Malam itu, Kamis (26/02/26), di Masjid Darussalam Loji, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah suasana Safari Ramadan berubah menjadi potret keheningan yang sarat makna.
Wakil Bupati Parigi Moutong, Abdul Sahid, tampak khusyuk di samping Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid. Tak ada jarak, tak ada sekat. Di antara saf jamaah, keduanya menengadahkan tangan, larut dalam doa yang lirih namun dalam. Di momen itulah, jabatan terasa luruh, menyisakan manusia dengan segala harap dan tanggung jawabnya.
Padahal sejak siang, hari mereka bergulir cepat. Bersama Bupati Parigi Moutong melakukan Pelepasan ekspor perdana durian Parigi Moutong ke Negeri Cina menjadi penanda optimisme baru bagi petani dan pelaku usaha lokal. Dari Packing House (PH) Durian Beku menuju gedung Auditorium, agenda berlanjut dengan rapat kerja daerah antara Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Daerah membahas program, menyelaraskan visi, merumuskan langkah percepatan pembangunan.
Waktu tak banyak tersisa ketika silaturahmi digelar di rumah jabatan. Masyarakat datang membawa senyum, juga harapan. Pemerintah mendengar, mencatat, merespons. Namun menjelang malam, irama berubah. Tanpa iring-iringan sirine pengawalan, rombongan bergerak menapakkan kaki sembari menyapa masyarakat sepanjang jalan dengan gaya sederhana menuju masjid. Tidak ada gemuruh protokoler. Hanya langkah kaki yang mantap, menuju ruang ibadah.
Di sanalah drama kepemimpinan menemukan maknanya. Bukan dalam gemerlap seremoni, melainkan dalam sunyi munajat. Wakil Bupati dan Gubernur duduk bersaf bersama warga. Tangan menengadah, mata terpejam. Doa-doa dipanjatkan untuk daerah yang terus bertumbuh, untuk masyarakat yang menggantungkan harapan pada kebijakan yang adil, untuk amanah yang kian berat di pundak.
Di balik kebersamaan itu, kepemimpinan Parigi Moutong tetap berdiri dalam satu kesatuan bersama Bupati Parigi Moutong, Erwin Burase. Meski tak berada dalam bingkai foto, peran dan arah kepemimpinan yang dikawal bersama Wakil Bupati menjadi fondasi perjalanan pemerintahan. Sinergi inilah yang menjaga agar setiap langkah tetap berada di rel kepentingan rakyat.
Ramadan menghadirkan jeda ruang untuk menundukkan ego dan meneguhkan niat. Di Masjid Darussalam Loji, malam itu, umarah bersila bukan sebagai pejabat, melainkan sebagai hamba. Mereka menanggalkan atribut, menadahkan harapan, dan menitipkan masa depan daerah pada doa yang tulus.
Di bulan penuh keberkahan, kepemimpinan menemukan wajah paling jujurnya. Sederhana, bersahaja, dan berserah.






