Soalparigi.id — Kahayalan dihari pertama Ramadan dengan puluhan takjil lezat dengan beragam minuman segar terbayangkan oleh siapa saja jika mendengar Pasar Ramadan. Namun di kawasan Terminal Pasar Sentral Parigi Pasar Ramadan tampil berbeda, langkah kaki pembeli tak kunjung ramai. Di hari pertama Ramadan, Kamis (19/02/26), Pasar Ramadan yang disiapkan Pemerintah Daerah Parigi Moutong justru menyuguhkan pemandangan yang berjarak dari harapan. Sunyi, lapak kosong, dan wajah pedagang yang penuh harapan dagangan laris diserbu pembeli.
Dari 23 lapak yang berdiri rapi, hanya sekitar delapan yang benar-benar terisi. Selebihnya kosong menjadi deretan deretan tenda kosong tanpa transaksi. Minuman dingin dan camilan sederhana mendominasi dagangan, tetapi variasi itu tak cukup memancing kerumunan. Suasana khas Ramadan yang biasanya riuh oleh tawar-menawar dan tawa pembeli, kali ini terasa lengang, seolah waktu berjalan lebih lambat.
Seorang pedagang duduk di balik lapaknya, menatap jalan yang sesekali dilalui kendaraan. Ia mengaku semangat berjualannya merosot seiring sepinya pembeli. “Baru delapan penjual yang buka. Pembeli juga begini-begini saja. Malah lebih banyak petugas yang berjaga dibandingkan pembeli,” katanya lirih. Lokasi pasar yang kurang strategis dan ramainya kunjungan kepala daerah tak dapat mempengaruhi antusias pedagang maupun pengunjung.
Pasar Ramadan ini digagas pemerintah daerah melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan dengan niat menata pedagang takjil agar lebih tertib sekaligus menyediakan ruang usaha yang layak selama bulan suci. Persiapan pun tak sekadar di atas kertas. Wakil bupati sempat turun meninjau, memastikan imbauan pemindahan pedagang ke lokasi Pasar Ramadan dipatuhi. Bupati juga hadir, menengok kesiapan fasilitas agar pasar benar-benar siap digunakan. Di atas panggung kebijakan, semua tampak matang.
Namun, panggung lapangan berbicara lain. Minimnya pedagang dan pengunjung mengisyaratkan persoalan mendasar, perencanaan yang belum sepenuhnya bertemu dengan kebutuhan pelaku usaha. Beberapa pedagang memilih bertahan di titik-titik lama yang sudah punya arus pembeli di eks lokasi pasar Kelurahan Bantaya atau sepanjang jalur Trans Sulawesi, khususnya sekitar Dekranasda. Di sana, deretan takjil justru ramai diserbu warga yang mencari menu berbuka.
Pilihan pedagang itu bukan tanpa alasan. Bagi mereka, Ramadan adalah momen emas yang menentukan pendapatan harian. Berpindah ke lokasi yang belum teruji berarti menanggung risiko sepi, risiko yang tak semua orang sanggup ambil. Hal itupun menggambarkan taruhan ekonomi di balik kebijakan penataan.
Sunyi di hari pertama ini menjadi catatan awal sekaligus peringatan bagi Pemerintah Daerah Parigi Moutong. Ramadan baru dimulai, waktu untuk berbenah masih terbuka. Evaluasi cepat, pendekatan partisipatif, dan promosi yang tepat bisa mengubah sunyi menjadi denyut. Sebab, pasar bukan sekadar deretan lapak, ia adalah harapan banyak keluarga yang menggantungkan hidup pada setiap senja Ramadan.





