Soalparigi.id – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Parigi Kanwil Ditjenpas Sulteng menyelenggarakan Ibadah Perayaan Natal bersama Pegawai dan Warga Binaan pada Kamis (11/12/25), bertempat di Aula Lapas Parigi. Kegiatan berlangsung penuh khidmat, tertib, dan sarat makna sebagai bagian dari pembinaan kepribadian serta penguatan spiritual bagi Warga Binaan.
Acara ini dihadiri oleh Kepala Lapas Kelas III Parigi, Fentje Mamirahi, para hamba Tuhan, tamu undangan, serta seluruh Warga Binaan beragama Kristen.
Dalam sambutannya, Kalapas Fentje Mamirahi menekankan bahwa perayaan Natal bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan ruang pemulihan batin dan pembaruan karakter bagi para Warga Binaan. Ia mengajak seluruh pelayan rohani untuk terus memberikan pendampingan iman secara berkelanjutan sebagai bagian dari pembinaan yang mampu membentuk masa depan mereka.
“Perayaan Natal tahun ini harus menjadi momen ketika hati kita dipenuhi damai dan harapan baru. Kiranya terang Natal menyinari setiap langkah kita,” ungkapnya.
Sementara itu, Pembina Rohani Warga Binaan, Pdt. Adrian, turut menyampaikan pesan mengenai pentingnya penguatan iman di lingkungan pemasyarakatan sebagai unsur pembinaan holistik. Acara berlanjut pada ibadah inti yang dipimpin pelayan Tuhan dari Jemaat GPID Smirna Lemusa. Firman Tuhan dibawakan oleh Pdt. David Sondak dengan tema nasional “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga.”
Ia menegaskan bahwa kasih Tuhan tidak mengenal batas, termasuk bagi mereka yang sedang menjalani masa pembinaan.
Suasana ibadah semakin khidmat ketika Kalapas Fentje Mamirahi mempersembahkan sebuah pujian rohani, disusul oleh persembahan pujian dari para Warga Binaan Kristen. Momentum ini menghadirkan nuansa kebersamaan dan sukacita yang tulus dalam perayaan Natal.
Rangkaian acara ditutup dengan Jamuan Kasih dan sesi foto bersama sebagai simbol persaudaraan dan refleksi damai Natal di lingkungan Lapas Parigi.
Melalui perayaan ini, Lapas Kelas III Parigi menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat pembinaan spiritual, meningkatkan kualitas pelayanan keagamaan, serta membentuk karakter Warga Binaan secara berkelanjutan sebagai bagian dari upaya mewujudkan reintegrasi sosial yang lebih baik. (Humas Lapas Parigi)






