Di Balik Kontainer Menuju Cina, Ada Peran KADIN Parigi Moutong yang Mengawal Mimpi Petani

Gubernur Sulawesi Tengah melepas ekspor perdana durian beku Parigi Moutong ke Cina

Soalparigi.id – Dibalik kontainer berpendingin itu berdiri kokoh di halaman fasilitas pengolahan, Kamis siang yang terik, 26 Februari 2026. Di dalamnya, 27 ton durian beku asal Kabupaten Parigi Moutong bersiap menempuh perjalanan panjang menuju Tiongkok.

Bagi sebagian orang, itu hanyalah aktivitas ekspor biasa. Namun bagi petani dan pelaku usaha di daerah ini, kontainer yang tertutup rapat tersebut memuat lebih dari sekadar komoditas. Ia membawa sejarah baru, untuk pertama kalinya, durian Parigi Moutong dikirim langsung ke pasar Tiongkok tanpa melalui negara perantara.

Selama ini, durian dari wilayah tersebut memang telah menembus pasar luar negeri. Akan tetapi, jalur distribusinya berputar melalui Thailand sebelum akhirnya masuk ke Tiongkok. Skema tersebut membuat identitas asal produk kerap tidak sepenuhnya melekat pada daerah penghasil. Kini, melalui ekspor langsung, nama Sulawesi Tengah hadir utuh di pasar global.

Pelepasan ekspor di fasilitas PT Silvia Amerta Jaya itu dilakukan langsung oleh Gubernur Sulteng Anwar Hafid. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa keberhasilan menembus pasar internasional bukan semata ditentukan oleh kuantitas produksi, melainkan oleh kualitas yang terjaga.

“Walaupun jumlahnya sedikit, kalau kualitas terjamin, harganya akan lebih baik. Sebaliknya, jika banyak tetapi tidak berkualitas, harganya tidak akan bagus,” ujarnya.

Nilai pengiriman perdana tersebut mencapai sekitar Rp2,1 miliar. Namun lebih dari itu, momen ini dipandang sebagai penguatan branding durian Parigi Moutong di pasar internasional. Pasar Tiongkok, menurut gubernur, menerapkan standar ketat terhadap produk hortikultura impor mulai dari kualitas buah, proses pembekuan, hingga sistem rantai dingin (cold chain).

Di balik proses yang memenuhi standar tersebut, terdapat peran aktif Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Parigi Moutong. Lembaga ini menjadi penghubung antara petani, pelaku usaha, dan pemerintah daerah, memastikan rantai pasok berjalan sesuai persyaratan pasar ekspor.

Ketua KADIN Parigi Moutong, Faradiba Zaenong, menegaskan bahwa pengiriman 27 ton durian beku ini bukan sekadar seremoni pelepasan.

“Ini bukan sekadar seremoni, tetapi penegasan bahwa potensi daerah mampu bersaing secara global,” katanya.

Menurut Faradiba, kolaborasi menjadi kunci. Dari kebun petani, proses sortasi, pembekuan, hingga pengemasan, seluruh tahapan harus terintegrasi dan terstandar. KADIN, lanjutnya, berperan mendorong konsistensi mutu sekaligus membuka akses komunikasi dengan mitra dagang dan pemerintah.

Ekspor ini juga merupakan bagian dari kerja sama antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan Pemerintah Provinsi Sichuan, Tiongkok, yang difokuskan pada pengembangan komoditas durian. Kerja sama tersebut membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk pertanian unggulan daerah.

Bagi para petani di Parigi Moutong, keberangkatan kontainer dari Desa Tolai bukan hanya simbol perdagangan lintas negara. Ia menghadirkan harapan akan harga yang lebih stabil, akses pasar yang lebih luas, dan pengakuan atas kualitas buah yang selama ini mereka rawat.

Pemerintah daerah menargetkan ekspor ke Tiongkok dapat berlangsung secara berkelanjutan dengan volume yang meningkat. Dampak ekonominya diharapkan tidak berhenti pada perusahaan eksportir, tetapi menjalar hingga ke tingkat desa.

Ke depan, penguatan standar mutu, perluasan lahan produktif, dan peningkatan kapasitas pengolahan menjadi fokus bersama. Jika konsistensi kualitas dapat dijaga, Parigi Moutong berpeluang memperkuat posisinya sebagai salah satu sentra durian Indonesia yang diperhitungkan di pasar global.

Ekspor perdana ini pada akhirnya bukan hanya tentang angka dan tonase. Ia menjadi penanda bahwa ketika petani, pelaku usaha, pemerintah, dan KADIN berjalan seiring, mimpi dari kebun-kebun desa pun mampu melintasi batas negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *