Di Tengah Keterbatasan, Parigi Moutong Buktikan Prestasi di POPDA Sulteng

/ Foto : Soalparigi

Soalparigi.ID — Keterbatasan anggaran membuat Kabupaten Parigi Moutong datang ke Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) Tingkat Provinsi Sulawesi Tengah ke-XXIV Tahun 2026 dengan kekuatan yang tidak lengkap. Hanya dua cabang olahraga yang dapat diikuti. Namun ketika para atlet memasuki lapangan pertandingan, keterbatasan itu seolah tidak pernah ada.

Parigi Moutong hanya mengirimkan kontingen pada cabang bola voli putra-putri dan sepak takraw putra dari empat cabang olahraga yang dipertandingkan. Sementara sepak bola dan basket tidak diikuti karena anggaran yang tersedia belum mencukupi untuk membiayai keikutsertaan pada seluruh cabang.

POPDA Tingkat Provinsi Sulawesi Tengah ke-XXIV Tahun 2026 berlangsung pada 24–30 Agustus 2026 dengan Kabupaten Buol sebagai tuan rumah.

Dengan keterbatasan yang ada, Parigi Moutong tetap memilih berangkat. Bukan untuk sekadar hadir, melainkan untuk bersaing dan membawa pulang prestasi.

Sebanyak 50 orang memperkuat kontingen Parigi Moutong. Mereka terdiri atas 29 atlet, lima pelatih, tiga tim medis, serta 19 official dan pendamping.

Dari jumlah tersebut, 12 atlet memperkuat tim bola voli putra, 12 atlet membela tim bola voli putri, dan lima atlet turun pada cabang sepak takraw putra.

Mereka berangkat dengan jumlah cabang yang lebih sedikit, tetapi dengan beban yang tidak lebih ringan. Setiap atlet membawa nama Parigi Moutong di pundaknya. Setiap pertandingan menjadi kesempatan untuk membuktikan bahwa keterbatasan fasilitas dan anggaran tidak serta-merta membatasi kemampuan untuk berprestasi.

Perjuangan itu kemudian menemukan hasil di arena bola voli.

Tim bola voli putra Parigi Moutong berhasil melangkah hingga partai final. Di pertandingan penentuan, mereka berhadapan dengan Kabupaten Banggai.

Pertandingan final berlangsung sengit. Parigi Moutong berusaha mempertahankan peluang menjadi yang terbaik, tetapi harus mengakui keunggulan Kabupaten Banggai setelah pertandingan berakhir dengan skor 3-1.

Kabupaten Banggai keluar sebagai juara pertama, sedangkan Parigi Moutong harus puas sebagai runner-up. Posisi ketiga ditempati bersama oleh Kabupaten Banggai Kepulauan dan Kota Palu.

Meski gagal membawa pulang emas dari sektor putra, medali perak menjadi bukti bahwa Parigi Moutong mampu berdiri di podium tertinggi kedua di tengah keterbatasan keikutsertaan.

Cerita berbeda datang dari tim bola voli putri.

Para atlet putri Parigi Moutong justru mampu menuntaskan perjuangan dengan hasil terbaik. Mereka keluar sebagai juara pertama bola voli putri POPDA Sulteng 2026, sementara Kota Palu menempati posisi kedua.

Dalam salah satu pertandingan penting, Parigi Moutong menghadapi Kabupaten Tolitoli dan berhasil meraih kemenangan dengan skor 2-1.

Kemenangan demi kemenangan membawa tim putri Parigi Moutong ke puncak. Gelar juara tersebut menjadi salah satu capaian paling berarti bagi kontingen Parigi Moutong pada POPDA tahun ini.

Satu medali emas dan satu medali perak dari bola voli menjadi jawaban atas perjuangan yang dimulai dari kondisi serba terbatas.

Keterbatasan anggaran memang membuat Parigi Moutong harus menahan langkah untuk mengikuti dua cabang olahraga lainnya. Namun di lapangan, para atlet tidak menjadikan keterbatasan itu sebagai alasan untuk mengendurkan perjuangan.

Mereka tetap berlatih, bertanding, mengejar setiap poin, dan mempertahankan peluang hingga pertandingan terakhir.

Sebab di balik setiap angka pada papan skor, ada kerja keras yang tidak terlihat. Ada latihan yang panjang, keringat yang jatuh, rasa lelah yang harus ditahan, dan harapan yang dibawa dari Parigi Moutong menuju Kabupaten Buol.

Ketua Kontingen POPDA Parigi Moutong yang juga Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Parigi Moutong menyampaikan bahwa kontingen yang diberangkatkan berjumlah 50 orang, terdiri atas atlet, pelatih, tim medis, official dan pendamping.

Mereka menjadi satu kesatuan yang bekerja untuk memastikan para atlet dapat menjalankan tugasnya di arena pertandingan.

Prestasi yang diraih pun tidak hanya menjadi milik para atlet. Di belakang mereka terdapat pelatih yang mempersiapkan strategi, tim medis yang menjaga kondisi, serta official dan pendamping yang memastikan kebutuhan kontingen selama mengikuti pertandingan.

Dari Kabupaten Buol, Parigi Moutong akhirnya memiliki cerita untuk dibawa pulang.

Bukan cerita tentang kontingen dengan jumlah cabang olahraga terbanyak. Bukan pula tentang dukungan anggaran yang berlimpah.

Melainkan cerita tentang bagaimana sebuah kontingen dengan ruang gerak yang terbatas tetap mampu bersaing dan berdiri di podium.

Bola voli putri membawa pulang gelar juara.

Bola voli putra pulang sebagai runner-up.

Dua capaian itu menjadi bukti bahwa keterbatasan anggaran tidak selalu berbanding lurus dengan keterbatasan prestasi.

Di tangan para atlet muda Parigi Moutong, kesempatan yang terbatas justru dijawab dengan perjuangan maksimal.

Karena pada akhirnya, yang menentukan bukan hanya seberapa besar anggaran yang tersedia, tetapi seberapa besar semangat yang dibawa ketika memasuki arena.

Dan di POPDA Sulteng 2026, Parigi Moutong telah menunjukkan itu: anggaran boleh terbatas, tetapi mimpi untuk mengharumkan nama daerah tidak boleh dibatasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *