Soalparigi.ID – Ribuan warga memadati lokasi halal bihalal yang digelar Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid di kampung halamannya di Morowali, Selasa (24/3/2026). Tingginya antusiasme masyarakat terlihat sejak pagi, menandai kuatnya keterlibatan publik dalam momentum silaturahmi pasca-Idulfitri.
Kegiatan yang berlangsung di kawasan Penangkaran Rusa itu menjadi lanjutan dari rangkaian halal bihalal sebelumnya di rumah jabatan gubernur di Palu. Berbeda dengan agenda di ibu kota provinsi, kegiatan di Morowali memiliki nuansa lebih personal karena dilaksanakan di daerah asal gubernur.
Sejak pagi hari, warga dari berbagai wilayah mulai berdatangan dan memenuhi area kegiatan. Arus pengunjung terus meningkat hingga siang, menciptakan suasana ramai namun tetap terkendali berkat pengaturan panitia dan aparat keamanan.
Gubernur Anwar Hafid hadir didampingi Ketua TP PKK Sulawesi Tengah Sry Nirwanti Bahasoan. Keduanya menyambut langsung masyarakat yang hadir, membuka ruang interaksi yang lebih dekat antara pemimpin dan warga.
Halal bihalal ini merupakan agenda tahunan yang rutin dilaksanakan sebagai sarana mempererat hubungan sosial. Namun, di tengah tingginya partisipasi masyarakat, kegiatan ini juga menjadi ruang komunikasi informal antara pemerintah dan warga.
Dalam suasana yang berlangsung akrab, warga terlihat berbaur tanpa sekat. Mereka saling menyapa, berjabat tangan, hingga berbincang santai. Banyak di antaranya rela mengantre untuk dapat bertemu langsung dengan gubernur.
Interaksi langsung ini dinilai penting karena memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk merasakan kedekatan dengan pemimpinnya. Di sisi lain, pemerintah juga dapat menangkap respons dan harapan warga secara langsung, meski dalam suasana nonformal.
Dalam kesempatan tersebut, Anwar Hafid turut menyampaikan perkembangan program kerja Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Ia kembali menyinggung program unggulan “9 Berani” sebagai bagian dari arah kebijakan pembangunan daerah ke depan.
Ia menegaskan bahwa komitmen pemerintah dalam melanjutkan pembangunan dan pelayanan publik tetap menjadi prioritas utama. Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, tetapi juga dukungan dan partisipasi masyarakat.
“Momentum ini bukan hanya untuk bersilaturahmi, tetapi juga memperkuat persaudaraan. Jabatan boleh berubah, tetapi kebersamaan harus tetap terjaga,” ujarnya.
Sejumlah warga menyambut positif kegiatan tersebut. Mereka menilai halal bihalal di kampung halaman memberikan kesempatan lebih luas untuk berinteraksi langsung dengan gubernur dibandingkan kegiatan serupa di kota besar.
Namun demikian, sejumlah pengamat menilai bahwa kegiatan dengan partisipasi besar seperti ini perlu diimbangi dengan tindak lanjut konkret terhadap aspirasi masyarakat. Interaksi yang terbangun diharapkan tidak berhenti pada momen seremonial, tetapi berlanjut dalam bentuk kebijakan yang responsif.
Selain itu, penyampaian program seperti “9 Berani” dalam forum terbuka dinilai sebagai langkah strategis untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap arah pembangunan daerah. Transparansi semacam ini penting untuk membangun kepercayaan publik.
Dari sisi pelaksanaan, kegiatan berlangsung aman dan tertib dengan dukungan aparat kepolisian, Satpol PP, serta panitia. Pengaturan arus pengunjung menjadi faktor penting dalam menjaga kenyamanan di tengah tingginya jumlah peserta.
Tingginya partisipasi warga dalam kegiatan ini menjadi indikator kuatnya kedekatan emosional antara pemimpin daerah dan masyarakat, khususnya di wilayah asal gubernur. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa pendekatan sosial masih menjadi faktor penting dalam kepemimpinan daerah.
Ke depan, masyarakat berharap agar kedekatan yang terbangun melalui kegiatan seperti ini dapat berdampak pada peningkatan kualitas pelayanan publik. Aspirasi yang muncul diharapkan tidak hanya didengar, tetapi juga diakomodasi dalam kebijakan pemerintah.
Dengan demikian, halal bihalal di Morowali tidak hanya menjadi tradisi tahunan, tetapi juga bagian dari upaya memperkuat hubungan antara pemerintah dan masyarakat. Tantangannya adalah bagaimana momentum ini dapat diterjemahkan menjadi langkah nyata dalam pembangunan daerah yang lebih merata dan berkelanjutan.






