Halal Bihalal di Rujab Gubernur Sulteng Diserbu Warga, Tunjukkan Tingginya Antusiasme dan Toleransi

/ Foto : Adpim Pemprov Sulteng

Soalparigi.ID – Siranindi, Kota Palu, dalam kegiatan halal bihalal yang digelar selama dua hari, Sabtu hingga Minggu (21–22 Maret 2026). Antusiasme tinggi masyarakat terlihat sejak pagi hingga malam, menjadikan agenda ini lebih dari sekadar tradisi tahunan.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, ini terbuka untuk umum dan menjadi ruang pertemuan langsung antara pemerintah daerah dan masyarakat pasca-Idulfitri. Warga datang tidak hanya untuk bersalaman, tetapi juga untuk berinteraksi langsung dalam suasana yang lebih santai.

Sejak hari pertama, arus kedatangan warga tidak terputus. Halaman hingga bagian dalam rumah jabatan dipenuhi pengunjung yang datang dari berbagai wilayah, termasuk luar Kota Palu. Kepadatan ini mencerminkan tingginya minat masyarakat untuk memanfaatkan momen silaturahmi secara langsung dengan pimpinan daerah.

Menariknya, kegiatan ini tidak hanya dihadiri oleh umat Muslim. Warga dari berbagai latar belakang agama juga terlihat hadir, menciptakan suasana inklusif yang mencerminkan keberagaman di Sulawesi Tengah. Interaksi lintas agama berlangsung tanpa sekat, menunjukkan bahwa momentum Idulfitri dapat menjadi ruang bersama bagi seluruh masyarakat.

Gubernur Anwar Hafid bersama Ketua TP PKK Sulawesi Tengah, Sry Nirwanti Bahasoan, menyambut langsung warga yang datang. Keduanya tampak aktif berinteraksi, mulai dari berjabat tangan, berbincang singkat, hingga melayani permintaan foto bersama.

Dalam keterangannya, Anwar Hafid menegaskan bahwa kegiatan halal bihalal ini bertujuan untuk mempererat hubungan antara pemerintah dan masyarakat. Ia menekankan bahwa rumah jabatan dibuka untuk semua kalangan sebagai simbol keterbukaan dan persaudaraan.

“Halal bihalal ini menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi antara pemerintah dan masyarakat Sulawesi Tengah,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa keterlibatan masyarakat dari berbagai latar belakang menjadi indikator penting bahwa nilai toleransi di daerah ini masih terjaga dengan baik. Menurutnya, keberagaman justru menjadi kekuatan dalam membangun kebersamaan.

Untuk mendukung kenyamanan tamu, panitia menyediakan berbagai hidangan khas Lebaran. Mulai dari coto Makassar, kuliner khas Kaili, bakso, aneka jajanan, hingga buah-buahan dan minuman disajikan secara terbuka. Konsep prasmanan memungkinkan pengunjung menikmati hidangan sambil berinteraksi secara santai.

Sejumlah warga yang hadir mengaku terkesan dengan suasana yang tercipta. Samuel, warga Desa Tomado, Kecamatan Lindu, Kabupaten Sigi, menyebut dirinya sengaja datang untuk bersilaturahmi dan merasa disambut dengan hangat.

Ia bahkan mengaku mendapat pengalaman yang tidak biasa karena keramahan tuan rumah yang terus mempersilakan tamu untuk menikmati hidangan. Hal ini, menurutnya, mencerminkan kedekatan yang ingin dibangun antara pemerintah dan masyarakat.

Hal serupa disampaikan Lina, warga Ujuna, yang baru pertama kali menghadiri open house gubernur. Ia menilai kegiatan tersebut memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk lebih dekat dengan pemimpinnya, tanpa suasana formal yang kaku.

Selain warga dari Palu dan sekitarnya, kegiatan ini juga dihadiri masyarakat dari berbagai daerah seperti Tolitoli, Buol, Luwuk, hingga Morowali yang kebetulan merayakan Idulfitri di ibu kota provinsi. Kehadiran mereka memperlihatkan jangkauan kegiatan yang tidak terbatas pada satu wilayah saja.

Namun demikian, sejumlah pengamat menilai bahwa kegiatan seperti ini perlu diikuti dengan langkah konkret dalam memperkuat hubungan antara pemerintah dan masyarakat. Interaksi langsung yang terbangun diharapkan tidak berhenti pada momen hari raya, tetapi berlanjut dalam bentuk kebijakan yang responsif.

Keterbukaan yang ditunjukkan melalui open house dinilai sebagai langkah awal yang baik dalam membangun kepercayaan publik. Namun, konsistensi dalam pelayanan dan komunikasi tetap menjadi faktor utama dalam menjaga hubungan tersebut.

Pelaksanaan halal bihalal selama dua hari ini berlangsung lancar meski dihadiri ribuan warga. Pengaturan arus pengunjung dan kesiapan panitia menjadi faktor penting dalam menjaga kenyamanan selama kegiatan berlangsung.

Momentum ini kembali menegaskan bahwa tradisi halal bihalal memiliki peran penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Tidak hanya sebagai ajang saling memaafkan, tetapi juga sebagai sarana memperkuat hubungan sosial dan menjaga harmoni di tengah keberagaman.

Ke depan, masyarakat berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dengan konsep yang lebih inklusif dan berdampak. Tidak hanya sebagai ajang seremonial, tetapi juga sebagai bagian dari strategi membangun kedekatan antara pemerintah dan masyarakat.

Dengan tingginya partisipasi warga, halal bihalal di Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Tengah tahun ini menjadi indikator kuat bahwa ruang interaksi langsung masih dibutuhkan. Tantangannya adalah bagaimana momentum ini dapat diterjemahkan menjadi hubungan yang lebih solid dan berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *