Soalparigi.ID – Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah mematangkan skema pengamanan untuk peringatan Haul ke-58 Habib Sayyid Idrus bin Salim Aljufri atau Guru Tua yang diperkirakan akan dihadiri sekitar 75 ribu jamaah. Kesiapan tersebut dibahas dalam rapat koordinasi lintas instansi yang digelar di Aula Rupatama Polda Sulteng, Kamis (26/3/2026).
Rapat koordinasi dipimpin langsung Kapolda Sulteng Endi Sutendi dan dihadiri unsur Forkopimda serta berbagai instansi terkait. Agenda ini difokuskan pada sinkronisasi pengamanan dan kesiapan teknis menjelang rangkaian kegiatan keagamaan berskala besar tersebut.
Dalam arahannya, Kapolda menegaskan bahwa pengamanan akan dilakukan secara terpadu dengan melibatkan personel gabungan dari Polri, TNI, Satpol PP, Dinas Perhubungan, hingga unsur pengamanan internal panitia. Skema pengamanan disusun berlapis untuk mengantisipasi berbagai potensi kerawanan.
“Pengamanan akan dibagi dalam beberapa ring untuk mengantisipasi kepadatan massa, pencurian kendaraan, maupun gangguan kamtibmas lainnya,” ujarnya.
Selain aspek keamanan, pengaturan lalu lintas menjadi perhatian utama. Polda Sulteng akan menerapkan rekayasa lalu lintas di sejumlah ruas jalan sekitar lokasi kegiatan guna mengurangi potensi kemacetan akibat lonjakan kendaraan jamaah.
Kapolda juga meminta instansi terkait untuk melakukan sosialisasi secara masif kepada masyarakat terkait pengalihan arus serta lokasi parkir. Penyiapan kantong parkir dinilai penting untuk memastikan kelancaran mobilitas selama kegiatan berlangsung.
Dari sisi fasilitas, panitia bersama pemerintah daerah diminta menyiapkan sarana pendukung secara memadai. Beberapa fasilitas yang menjadi prioritas antara lain posko kesehatan, ambulans, toilet umum, tempat sampah, serta area parkir yang representatif.
Penambahan ambulans dan penempatan tenaga medis di sejumlah titik strategis juga menjadi bagian dari rencana pengamanan. Langkah ini bertujuan mempercepat penanganan jika terjadi kondisi darurat di tengah kerumunan jamaah.
Selain itu, perhatian khusus diberikan pada penyediaan fasilitas bagi penyandang disabilitas. Hal ini dilakukan agar seluruh jamaah dapat mengikuti rangkaian kegiatan dengan nyaman dan aman tanpa terkecuali.
Dalam pengaturan teknis, panitia diminta menata area kegiatan secara sistematis, termasuk pemisahan jalur untuk tamu VIP dan VVIP, lokasi panggung utama, serta area pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Distribusi konsumsi kepada jamaah juga harus diatur untuk menghindari penumpukan massa.
Untuk memastikan kesiapan di lapangan, simulasi atau gladi pengamanan akan dilakukan sebelum hari pelaksanaan. Simulasi ini melibatkan seluruh unsur yang terlibat guna menguji efektivitas skema yang telah disusun.
Kapolda menegaskan bahwa Haul Guru Tua bukan sekadar agenda keagamaan, tetapi juga momentum sosial yang memperkuat nilai kebersamaan dan toleransi di tengah masyarakat Sulawesi Tengah.
“Haul Guru Tua sudah menjadi milik bersama. Kita semua harus menjaga dan mengambil hikmah dari keteladanan beliau,” tegasnya.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Sulteng Djoko Wienartono menyebut rakor ini sebagai langkah penting untuk menyamakan persepsi antarinstansi. Menurutnya, koordinasi yang solid menjadi kunci utama kelancaran kegiatan berskala besar.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk turut menjaga ketertiban dan mematuhi arahan petugas selama rangkaian kegiatan berlangsung. Partisipasi publik dinilai menjadi faktor penting dalam menciptakan situasi yang aman dan kondusif.
Rangkaian kegiatan Haul Guru Tua ke-58 akan diawali dengan Festival Raudhah pada 28 hingga 30 Maret 2026. Selanjutnya, kegiatan doa, tahlil, dan yasin dijadwalkan pada 31 Maret 2026.
Puncak peringatan akan berlangsung pada 1 April 2026 sebelum Salat Dzuhur, dengan estimasi kehadiran mencapai puluhan ribu jamaah dari berbagai daerah di Indonesia.
Dengan persiapan yang matang dan koordinasi lintas sektor, Polda Sulteng optimistis pelaksanaan Haul Guru Tua ke-58 dapat berjalan aman dan tertib. Namun, keberhasilan pengamanan juga sangat bergantung pada kepatuhan masyarakat terhadap aturan yang telah ditetapkan.
Momentum ini diharapkan tidak hanya berjalan lancar, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan dan toleransi di tengah masyarakat Sulawesi Tengah.
“Haul Guru Tua sudah menjadi milik bersama. Kita semua harus menjaga dan mengambil hikmah dari keteladanan beliau,” tegasnya.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Sulteng Djoko Wienartono menyebut rakor ini sebagai langkah penting untuk menyamakan persepsi antarinstansi. Menurutnya, koordinasi yang solid menjadi kunci utama kelancaran kegiatan berskala besar.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk turut menjaga ketertiban dan mematuhi arahan petugas selama rangkaian kegiatan berlangsung. Partisipasi publik dinilai menjadi faktor penting dalam menciptakan situasi yang aman dan kondusif.
Rangkaian kegiatan Haul Guru Tua ke-58 akan diawali dengan Festival Raudhah pada 28 hingga 30 Maret 2026. Selanjutnya, kegiatan doa, tahlil, dan yasin dijadwalkan pada 31 Maret 2026.
Puncak peringatan akan berlangsung pada 1 April 2026 sebelum Salat Dzuhur, dengan estimasi kehadiran mencapai puluhan ribu jamaah dari berbagai daerah di Indonesia.
Dengan persiapan yang matang dan koordinasi lintas sektor, Polda Sulteng optimistis pelaksanaan Haul Guru Tua ke-58 dapat berjalan aman dan tertib. Namun, keberhasilan pengamanan juga sangat bergantung pada kepatuhan masyarakat terhadap aturan yang telah ditetapkan.
Momentum ini diharapkan tidak hanya berjalan lancar, tetapi juga memperkuat nilai persatuan dan kebersamaan di tengah masyarakat Sulawesi Tengah yang beragam.






