Soalparigi.ID — Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, menyatakan komitmennya untuk mendukung pembinaan pebiliar muda berbakat asal Tolitoli, Fajar Alamri, agar mampu berkembang hingga ke level internasional. Dukungan tersebut disampaikan saat menerima langsung Fajar di ruang kerjanya di Kota Palu, Senin (20/04/2026).
Fajar yang baru berusia lima tahun menjadi sorotan setelah tampil dalam ajang Carabao International Open 2026. Penampilannya di usia sangat muda dinilai sebagai indikasi kuat adanya potensi besar yang perlu dibina secara serius dan berkelanjutan.
Dalam pertemuan tersebut, Fajar didampingi oleh ayahnya, Jafar Alamri, yang juga merupakan atlet biliar. Turut hadir Ketua KONI Sulawesi Tengah, Muhammad Fathur Razaq, serta Ketua POBSI Sulawesi Tengah, Andi Raharja Limbunan.
Anwar Hafid mengungkapkan kekagumannya terhadap kemampuan Fajar yang dinilai melampaui rata-rata anak seusianya. Ia menilai, bakat tersebut bukan hanya menjadi kebanggaan daerah, tetapi juga berpotensi mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Menurutnya, talenta seperti Fajar merupakan aset penting yang harus mendapatkan perhatian khusus sejak dini. Tanpa pembinaan yang tepat, potensi besar tersebut berisiko tidak berkembang secara optimal.
Selain kemampuan di bidang olahraga, Fajar juga dikenal sebagai hafiz Al-Qur’an. Kombinasi antara prestasi akademik dan non-akademik ini dinilai menjadi nilai tambah yang mencerminkan pembinaan karakter sejak usia dini.
Sebagai bentuk komitmen, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah akan mendorong program pembinaan yang lebih terarah, termasuk pelatihan intensif dan pendampingan berkelanjutan. Langkah ini bertujuan memastikan perkembangan kemampuan Fajar berjalan secara sistematis.
Anwar Hafid menegaskan bahwa pembinaan atlet tidak bisa dilakukan secara sporadis. Dibutuhkan perencanaan jangka panjang yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, organisasi olahraga, hingga keluarga.
Ia juga membuka peluang kerja sama dengan sponsor dan lembaga terkait untuk mendukung kebutuhan pembinaan, termasuk fasilitas latihan dan keikutsertaan dalam turnamen tingkat nasional maupun internasional.
Keterlibatan KONI dan POBSI Sulawesi Tengah dalam proses ini dinilai penting untuk memastikan jalur pembinaan yang tepat. Kedua organisasi tersebut diharapkan dapat memberikan pendampingan teknis sekaligus membuka akses kompetisi yang lebih luas bagi Fajar.
Di sisi lain, keberhasilan Fajar menembus ajang internasional di usia dini juga menjadi indikator bahwa Sulawesi Tengah memiliki potensi atlet muda yang belum sepenuhnya tergali. Kondisi ini membuka peluang bagi pemerintah untuk memperkuat sistem pencarian dan pembinaan bakat sejak usia dini.
Pengembangan atlet usia muda juga dinilai memiliki dampak jangka panjang terhadap prestasi olahraga daerah. Dengan pembinaan yang konsisten, Sulawesi Tengah berpeluang melahirkan atlet-atlet berprestasi yang mampu bersaing di tingkat nasional hingga global.
Namun demikian, tantangan yang dihadapi tidak ringan. Selain aspek teknis, faktor pendanaan, fasilitas, serta keberlanjutan program menjadi hal yang perlu mendapat perhatian serius agar pembinaan tidak terhenti di tengah jalan.
Dukungan terhadap Fajar Alamri diharapkan menjadi contoh konkret bagaimana pemerintah daerah dapat berperan aktif dalam membangun ekosistem olahraga yang berorientasi pada prestasi. Pendekatan ini sekaligus memperkuat posisi olahraga sebagai bagian dari strategi pembangunan sumber daya manusia.
Pada akhirnya, keberhasilan pembinaan Fajar tidak hanya diukur dari capaian prestasi, tetapi juga dari kemampuannya menjadi inspirasi bagi generasi muda. Dengan dukungan yang tepat, Fajar Alamri berpotensi menjadi simbol lahirnya atlet berkelas dunia dari Sulawesi Tengah.






