Soalparigi.ID – Kolaborasi antardaerah dinilai menjadi kunci mempercepat peningkatan prestasi olahraga nasional. Hal itu menjadi fokus utama dalam pertemuan antara Komite Olahraga Nasional Indonesia wilayah Sulawesi Tengah dan Jawa Barat yang berlangsung di Bandung, Senin (23/2/2026), sebagai bagian dari langkah strategis menuju persiapan Pekan Olahraga Nasional XXIII tahun 2032.
Kunjungan kerja tersebut dipimpin Ketua Umum KONI Sulawesi Tengah, Muhammad Fathur Razaq, dan diterima langsung oleh Ketua Umum KONI Jawa Barat, M. Budiana, bersama jajaran pengurus. Pertemuan ini menitikberatkan pada penguatan sistem pembinaan atlet serta pengelolaan organisasi olahraga yang lebih terstruktur dan berorientasi hasil.
Audiensi berlangsung dalam suasana diskusi strategis, bukan sekadar agenda seremonial. Kedua pihak membahas tantangan nyata yang dihadapi daerah dalam meningkatkan prestasi olahraga, mulai dari keterbatasan sarana, kualitas sumber daya manusia, hingga kebutuhan sistem pembinaan berjenjang yang konsisten.
Sulawesi Tengah memandang Jawa Barat sebagai salah satu daerah dengan sistem pembinaan olahraga yang relatif mapan. Dalam beberapa edisi PON, Jawa Barat dikenal mampu menjaga stabilitas prestasi melalui manajemen organisasi yang kuat serta dukungan fasilitas olahraga yang terintegrasi.
Muhammad Fathur Razaq menegaskan bahwa kunjungan ini merupakan langkah konkret untuk mempercepat transformasi pembinaan olahraga di Sulawesi Tengah. Menurutnya, peningkatan prestasi tidak bisa hanya bergantung pada potensi atlet, tetapi harus ditopang sistem organisasi yang profesional.
Ia menjelaskan bahwa Sulawesi Tengah tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pola pembinaan cabang olahraga, termasuk penguatan program jangka panjang. Kolaborasi dengan Jawa Barat diharapkan mampu memberikan referensi praktis dalam membangun ekosistem olahraga yang lebih kompetitif.
Selain pembinaan atlet, pembahasan juga mencakup tata kelola organisasi olahraga daerah. Transparansi anggaran, sistem monitoring prestasi, serta penguatan peran pengurus cabang olahraga menjadi bagian penting dalam diskusi kedua pihak.
Dalam pertemuan tersebut, kedua organisasi juga menyoroti pentingnya integrasi sarana dan prasarana olahraga. Ketersediaan fasilitas latihan yang memadai dinilai berpengaruh langsung terhadap peningkatan kualitas atlet, terutama dalam menghadapi kompetisi nasional.
Sebagai bentuk komitmen kerja sama, kedua pihak menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) yang mencakup penguatan pembinaan prestasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia olahraga, serta dukungan pengelolaan fasilitas olahraga secara berkelanjutan.
Kesepakatan ini tidak hanya bersifat administratif, tetapi diarahkan untuk ditindaklanjuti melalui program kerja konkret. Di antaranya pertukaran pelatih, peningkatan kapasitas tenaga keolahragaan, serta studi pengelolaan pusat pelatihan atlet.
Langkah tersebut juga berkaitan langsung dengan rencana besar Sulawesi Tengah untuk mengikuti proses bidding tuan rumah PON XXIII tahun 2032. Pemerintah daerah dan KONI Sulawesi Tengah saat ini mulai memetakan kesiapan infrastruktur serta potensi dukungan nasional.
Dalam konteks itu, dukungan dari Jawa Barat dinilai memiliki nilai strategis. Jawa Barat dianggap memiliki pengalaman kuat dalam penyelenggaraan event olahraga skala besar serta sistem pembinaan atlet yang berkelanjutan.
M. Budiana menyatakan kesiapan pihaknya untuk memberikan dukungan teknis maupun strategis dalam proses persiapan tersebut. Ia bahkan menyatakan kesediaannya untuk terlibat dalam tim pemenangan bidding PON 2032 sebagai bentuk komitmen kolaborasi antardaerah.
Menurutnya, sinergi antarprovinsi penting untuk memperkuat pemerataan prestasi olahraga nasional. Ia menilai potensi atlet dari wilayah Indonesia bagian tengah, termasuk Sulawesi Tengah, cukup besar jika didukung sistem pembinaan yang konsisten.
Diskusi juga menyoroti peluang peningkatan prestasi melalui pendekatan sport science serta pemanfaatan data performa atlet. Pendekatan ini mulai menjadi standar baru dalam pembinaan olahraga modern.
Selain itu, penguatan kompetisi daerah juga menjadi perhatian. Kompetisi lokal yang rutin dinilai mampu menjaga ritme prestasi atlet sekaligus memperluas proses talent scouting.
Kerja sama ini diharapkan mampu mempercepat peningkatan kualitas organisasi olahraga di Sulawesi Tengah, terutama dalam menghadapi persaingan antarprovinsi yang semakin ketat pada ajang PON.
Bagi Sulawesi Tengah, target jangka panjang bukan hanya peningkatan perolehan medali, tetapi juga kesiapan menjadi tuan rumah event olahraga nasional. Hal ini berkaitan langsung dengan pembangunan infrastruktur olahraga serta dampak ekonomi daerah.
Jika proses bidding berjalan sesuai rencana, penyelenggaraan PON berpotensi mendorong pembangunan fasilitas olahraga, peningkatan sektor pariwisata, serta pertumbuhan ekonomi lokal melalui efek berganda dari kegiatan olahraga nasional.
Kolaborasi antara KONI Sulawesi Tengah dan KONI Jawa Barat menjadi salah satu langkah awal untuk memperkuat fondasi tersebut. Dengan pendekatan berbasis program dan pertukaran pengalaman, kerja sama ini diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan dokumen, tetapi berlanjut pada implementasi nyata di lapangan.
Ke depan, keberhasilan kerja sama ini akan diukur dari peningkatan prestasi atlet serta kesiapan Sulawesi Tengah dalam memenuhi standar sebagai calon tuan rumah PON 2032, sekaligus memperkuat kontribusi daerah dalam peta olahraga nasional.






