Soalparigi.id – Di sebuah sudut terpencil Kabupaten Parigi Moutong, anak-anak di Desa Bainaa Barat tumbuh dengan suara lantai kayu lapuk yang berderit setiap kali pelajaran dimulai. Mereka belajar di ruang sederhana yang dindingnya mulai rapuh dimakan usia. Saat hujan turun, perhatian mereka tak lagi penuh ke papan tulis, melainkan ke titik-titik air yang masuk dari sela bangunan.
Selama bertahun-tahun, keadaan itu seperti diterima sebagai bagian dari kehidupan.
Pada Kamis, 30 April 2026, suasana desa mendadak berbeda.
Warga berbondong keluar rumah ketika rombongan pemerintah memasuki wilayah mereka. Bukan karena pesta atau perayaan besar, tetapi karena untuk pertama kalinya sejak kabupaten ini berdiri tahun 2002, seorang bupati datang langsung menginjakkan kaki di desa terpencil tersebut.
Kehadiran Erwin Burase bukan sekadar kunjungan kerja biasa. Di mata warga, itu adalah tanda bahwa desa mereka akhirnya terlihat.
Perjalanan pertama Bupati mengarah ke SD Terpencil Bainaa Barat. Di sekolah itulah sekitar 70 siswa belajar hanya dengan dua ruang kelas seadanya. Sebagian lantai terlihat mulai keropos, sementara dinding kayu tampak miring dan kusam.
Anak-anak tetap duduk rapi di bangku mereka pagi itu. Ada yang malu-malu memperhatikan rombongan, ada pula yang tersenyum kecil saat diajak berbicara.
Di hadapan kondisi tersebut, suasana mendadak hening.
Bupati melihat langsung bagaimana sekolah yang menjadi tempat menggantungkan masa depan itu justru berdiri dalam keterbatasan. Tidak ada fasilitas memadai, belum tersedia akses internet, bahkan listrik masih menjadi persoalan bagi sebagian warga.
“Pendidikan tidak boleh berhenti hanya karena anak-anak lahir jauh dari kota,” kata Erwin pelan saat berbincang dengan guru dan masyarakat setempat.
Kalimat itu disambut harapan yang selama ini nyaris pudar.
Di lokasi itu pula, Erwin langsung meminta agar sekolah direhabilitasi total. Pemerintah daerah berencana mengganti bangunan yang sudah rusak, melengkapi meja dan kursi belajar, hingga menghadirkan jaringan listrik dan internet untuk mendukung aktivitas pendidikan.
Bagi masyarakat Bainaa Barat, internet bukan sekadar soal teknologi. Itu adalah pintu agar anak-anak mereka tidak tertinggal terlalu jauh dari dunia luar.
Namun persoalan desa ini tidak berhenti di sekolah.
Untuk menuju dusun lain, warga selama ini harus menyeberangi sungai yang arusnya sering berubah ganas saat musim hujan. Anak-anak sekolah pun melewati jalur yang sama hampir setiap hari.
Di atas sungai itulah pembangunan Jembatan Garuda mulai dikerjakan oleh TNI. Meski progresnya baru sekitar 20 persen, masyarakat menggantungkan harapan besar pada jembatan tersebut.
Sebab selama ini, akses yang sulit membuat Bainaa Barat seperti terpisah dari banyak hal—pendidikan, pelayanan, bahkan rasa aman.
Tak jauh dari sungai, ancaman lain perlahan menggerus permukiman warga. Abrasi terus mendekati rumah-rumah penduduk. Sedikitnya 10 kepala keluarga kini berada dalam kondisi rawan jika erosi semakin meluas.
Melihat kondisi itu, Bupati juga meminta pembangunan bronjong segera dilakukan untuk menahan laju arus sungai.
Bagi sebagian orang, kunjungan itu mungkin hanya agenda pemerintahan. Tetapi bagi warga Bainaa Barat, hari itu terasa lebih dari sekadar inspeksi lapangan.
Ada ibu-ibu yang menitikkan air mata ketika berbicara tentang harapan anak mereka. Ada guru yang bertahan mengajar bertahun-tahun dalam keterbatasan. Ada pula warga lanjut usia yang mengaku baru kali ini melihat kepala daerah datang langsung ke desa mereka.
Selama lebih dari dua dekade, Bainaa Barat seperti hidup di pinggir perhatian.
Kini, desa kecil itu mulai percaya bahwa mereka tidak lagi sendiri.
Meski demikian, masyarakat sadar harapan tidak cukup dibangun lewat kunjungan sehari. Mereka menunggu janji-janji itu benar-benar hadir dalam bentuk sekolah yang layak, jembatan yang selesai dibangun, dan akses yang membuat anak-anak mereka bisa bermimpi lebih jauh.
Sebab bagi warga Bainaa Barat, pembangunan bukan hanya soal beton dan proyek pemerintah.
Pembangunan adalah tentang rasa bahwa mereka juga dianggap penting.






