Soalparigi.id — Upaya membangun pendidikan yang lebih merata dan berdaya saing di Kabupaten Parigi Moutong terus diperkuat. Melalui Kegiatan Konsolidasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2026 yang digelar di Aula Pertemuan Dikbud Parigi Moutong (10/05/26), pemerintah daerah menegaskan komitmen melakukan transformasi layanan pendidikan dan kebudayaan hingga ke tingkat desa.
Mengusung tema “Transformasi Layanan Pendidikan dan Kebudayaan melalui Gerbang Desa Menuju Parigi Moutong Maju, Mandiri, dan Berdaya Saing,” kegiatan tersebut menjadi ruang evaluasi sekaligus penyatuan langkah seluruh pemangku kepentingan pendidikan dalam menjawab berbagai tantangan dunia pendidikan daerah.
Dalam konsolidasi itu, sejumlah agenda strategis dibahas mulai dari peningkatan mutu layanan pendidikan, penguatan tata kelola sekolah, hingga percepatan pencapaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) pendidikan di seluruh wilayah Parigi Moutong.
Salah satu perhatian utama adalah penguatan layanan administrasi dan kepegawaian melalui optimalisasi aplikasi Si Kelor. Sistem ini diharapkan mampu mempercepat proses pelayanan administrasi tenaga pendidik secara lebih efektif dan transparan.
Selain itu, penataan rotasi dan promosi kepala sekolah juga menjadi fokus pembahasan. Kebijakan tersebut diarahkan berbasis kinerja dan capaian sekolah, sehingga mendorong lahirnya kepemimpinan pendidikan yang lebih profesional dan kompetitif.
Konsolidasi juga menyoroti pentingnya kepastian pembayaran honor bagi PPPK paruh waktu melalui penguatan koordinasi lintas sektor agar pelayanan pendidikan tidak terganggu.
Dalam aspek perencanaan sekolah, seluruh satuan pendidikan diwajibkan menyusun Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) berbasis data Rapor Pendidikan. Langkah ini dinilai penting agar program sekolah benar-benar disusun berdasarkan kebutuhan riil dan kondisi mutu pendidikan masing-masing sekolah.
Tidak hanya fokus pada tata kelola, kegiatan tersebut turut menekankan peningkatan kualitas pembelajaran melalui penguatan literasi dan numerasi siswa. Pemerintah daerah juga mendorong lahirnya sekolah pilot project dan pola sister school sebagai strategi percepatan pencapaian SPM pendidikan.
Sementara itu, kompetensi guru diarahkan terus berkembang melalui pelatihan, refleksi pembelajaran, serta pendekatan asesmen yang lebih adaptif terhadap kemampuan siswa. Penyusunan soal ujian sekolah pun diminta lebih objektif dan sesuai tingkat kompetensi peserta didik.
Pada sektor layanan pendidikan, Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 dipastikan menggunakan sistem berbasis online, kecuali untuk beberapa wilayah terpencil dengan keterbatasan akses jaringan.
Di sisi lain, tingginya angka putus sekolah di Parigi Moutong menjadi perhatian serius dalam forum tersebut. Permasalahan ini dinilai membutuhkan keterlibatan bersama antara pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat untuk menekan angka anak tidak sekolah di daerah.
Konsolidasi itu juga mendorong penguatan pendidikan karakter dan kreativitas siswa melalui implementasi Program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS), pemanfaatan Papan Interaktif Digital (PID), serta penerapan tujuh Kebiasaan Indonesia Hebat dalam aktivitas pembelajaran sehari-hari.
Melalui konsolidasi ini, Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong berharap transformasi pendidikan tidak hanya berhenti pada kebijakan administratif, tetapi benar-benar menghadirkan perubahan nyata bagi kualitas sumber daya manusia hingga ke desa-desa.






