Soalparigi.ID – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Parigi kembali memperketat pengawasan terhadap potensi penyalahgunaan narkotika di dalam lingkungan pemasyarakatan. Melalui tes urine yang dilakukan secara acak terhadap warga binaan, seluruh sampel yang diperiksa dinyatakan negatif narkoba, sebagai bagian dari upaya menjaga Lapas tetap bersih dari peredaran dan penyalahgunaan barang terlarang.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Senin (6/7/2026) tersebut merupakan agenda rutin deteksi dini yang menyasar warga binaan secara acak. Sebanyak lima orang Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) dipilih tanpa pemberitahuan sebelumnya untuk menjalani pemeriksaan urine.
Pelaksanaan tes melibatkan jajaran pengamanan dan petugas klinik Lapas Kelas III Parigi dengan menerapkan prosedur pemeriksaan yang ketat. Pemilihan peserta dilakukan secara langsung saat kegiatan berlangsung guna memastikan proses berjalan objektif, transparan, dan tidak dapat diprediksi.
Selain peserta yang dipilih secara acak, waktu pelaksanaan juga sengaja tidak dijadwalkan secara terbuka. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pengawasan untuk meningkatkan efektivitas deteksi dini terhadap potensi penyalahgunaan narkotika di dalam lapas.
Tes urine rutin tersebut merupakan implementasi dari kebijakan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan yang mewajibkan setiap satuan kerja pemasyarakatan melaksanakan pemeriksaan minimal empat kali dalam sebulan sebagai bagian dari upaya pencegahan peredaran narkoba dan gangguan keamanan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan menggunakan alat uji narkoba (test pack), seluruh sampel urine dari lima warga binaan menunjukkan hasil negatif. Temuan tersebut menandakan tidak ditemukan indikasi penggunaan narkotika pada warga binaan yang mengikuti pemeriksaan kali ini.
Pelaksana Tugas Kepala Lapas Kelas III Parigi, I Wayan Widana, mengatakan tes urine yang dilakukan secara acak merupakan salah satu langkah preventif untuk mendeteksi sekaligus mencegah masuknya narkoba ke dalam lingkungan pemasyarakatan.
Menurutnya, metode pengawasan tanpa pemberitahuan sebelumnya membuat proses pemeriksaan lebih efektif karena tidak memberi ruang bagi warga binaan untuk mengantisipasi pelaksanaan tes.
“Kegiatan tes urine yang jadwal maupun pesertanya dipilih secara acak merupakan langkah deteksi dini yang efektif untuk mencegah penyalahgunaan narkoba di dalam lapas. Sesuai arahan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, kegiatan ini kami laksanakan secara rutin sedikitnya empat kali setiap bulan,” ujarnya.
Ia mengapresiasi hasil pemeriksaan yang menunjukkan seluruh warga binaan yang diperiksa bebas dari penyalahgunaan narkotika. Meski demikian, pengawasan akan terus diperketat sebagai bagian dari komitmen menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan lapas.
“Hasil pemeriksaan hari ini seluruhnya negatif. Ini menjadi bagian dari komitmen kami dalam mewujudkan Zero Halinar, yakni bebas dari handphone ilegal, pungutan liar, dan narkoba. Pengawasan akan terus kami tingkatkan agar kondisi ini tetap terjaga,” katanya.
Lapas Parigi menilai keberhasilan menjaga lingkungan pemasyarakatan tetap bebas narkoba menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung keberhasilan program pembinaan warga binaan. Lingkungan yang aman dan kondusif dinilai akan memperkuat pelaksanaan pembinaan kepribadian maupun pembinaan kemandirian yang menjadi tujuan utama sistem pemasyarakatan.
Melalui pelaksanaan tes urine secara berkala, Lapas Kelas III Parigi berharap upaya pencegahan penyalahgunaan narkotika dapat terus berjalan secara konsisten. Selain menjaga keamanan di dalam lapas, langkah tersebut juga menjadi bagian dari komitmen membangun sistem pemasyarakatan yang bersih, transparan, dan mendukung proses pembinaan warga binaan agar siap kembali ke tengah masyarakat setelah menjalani masa pidana.






