Soalparigi.id — Di balik unggahan media sosial yang ramai diperbincangkan, tersimpan kegelisahan seorang mahasiswi asal Kabupaten Parigi Moutong terhadap kondisi infrastruktur di kampung halamannya. Bagi Nur Ramlah, jalan rusak bukan sekadar persoalan aspal berlubang, melainkan menyangkut keselamatan, akses pendidikan, hingga denyut ekonomi masyarakat.
Mahasiswi yang saat ini menempuh pendidikan di Kota Palu itu menyuarakan kondisi jalan di Desa Matolele, Kecamatan Parigi Tengah. Menurutnya, kerusakan jalan telah berlangsung cukup lama tanpa adanya penyelesaian yang dirasakan masyarakat.
Melalui unggahan di media sosial, Ramlah menegaskan bahwa suaranya bukan bertujuan mencari perhatian, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap warga yang setiap hari bergantung pada akses jalan tersebut.

“Yang kami lakukan bukan untuk sekadar mencari sensasi semata, melainkan untuk kebaikan masyarakat sekitar. Sudah lama rasanya janji yang diberikan tak kunjung terlihat. Sudah lelah rasanya hati menunggu janji yang tak pasti. Semoga dengan postingan ini Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong bisa sedikit saja memperhatikan akses jalan di Desa Matolele, Kecamatan Parigi Tengah. Jalan ini sering digunakan anak-anak sekolah, orang tua, bahkan para pekerja. Kalau jalan ini dilalui ibu hamil, bisa saja mereka belum sempat sampai di rumah sakit karena kondisi jalannya,” tulis Ramlah dalam unggahannya.
Saat dikonfirmasi melalui pesan singkat pada Jumat (3/7/2026), Ramlah mengatakan persoalan infrastruktur tidak hanya terjadi di Desa Matolele. Ia juga menyoroti kerusakan jalan di kawasan Palo Lidah, Kelurahan Kampal, Kecamatan Parigi.
Menurutnya, jalan tersebut memiliki peran penting sebagai akses bagi para nelayan untuk mendistribusikan hasil tangkapan menuju Pasar Sentral Parigi. Kerusakan yang telah berlangsung bertahun-tahun, kata dia, membuat sebagian nelayan harus memilih jalur yang lebih jauh sehingga menambah waktu dan biaya perjalanan.
Di sisi lain, kawasan tersebut juga telah mendapat penataan melalui pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Posintomu. Namun, Ramlah menilai kondisi jalan yang rusak justru kontras dengan upaya penataan kawasan tersebut.
“Jalan yang dibangunkan RTH dengan nama Taman Posintomu adalah bukti nyata komitmen pemerintah menata jantung kota. Namun kondisi jalan yang rusak parah selama bertahun-tahun dibiarkan merupakan cerminan komitmen menata yang terbalik,” ujarnya.
Ia berharap perhatian pemerintah tidak hanya terfokus pada pembangunan ruang publik, tetapi juga pada infrastruktur dasar yang setiap hari digunakan masyarakat untuk beraktivitas dan mencari nafkah.
Bagi Ramlah, jalan yang layak merupakan kebutuhan mendasar masyarakat. Selain mendukung mobilitas warga, kondisi jalan yang baik juga berkaitan dengan keselamatan pengguna jalan serta kelancaran aktivitas ekonomi.
“Perbaikan jalan rusak adalah kewajiban pemerintah sesuai dengan status kewenangannya. Harapan kami sederhana, semoga pemerintah tidak hanya melihat keluhan masyarakat, tetapi juga memberikan tindak lanjut nyata demi keselamatan dan kesejahteraan warga,” katanya.
Ramlah juga mengajak seluruh elemen masyarakat, para tokoh, dan pemerintah untuk bersama-sama membangun serta merawat Kota Parigi. Menurutnya, kemajuan daerah tidak hanya bergantung pada pembangunan yang dilakukan pemerintah, tetapi juga pada kepedulian semua pihak dalam menjaga dan memelihara fasilitas yang telah dibangun demi kepentingan bersama.
Suara yang disampaikan Ramlah menjadi gambaran harapan sebagian masyarakat Parigi Moutong agar pembangunan tidak hanya terlihat pada wajah kota, tetapi juga menyentuh kebutuhan dasar yang dirasakan langsung oleh warga. Di tengah berbagai agenda pembangunan, jalan yang aman dan layak tetap menjadi penghubung penting bagi anak-anak menuju sekolah, nelayan menuju pasar, pekerja mencari nafkah, hingga warga yang membutuhkan layanan kesehatan.






