Bupati Parigi Moutong Perkuat Komitmen Eliminasi Kusta, Fokus pada Deteksi Dini dan Edukasi Masyarakat

/ Foto : Diskominfo Parimo

Soalparigi.ID – Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong menegaskan komitmennya untuk mempercepat eliminasi penyakit kusta melalui penguatan layanan kesehatan, deteksi dini, serta edukasi kepada masyarakat guna menghapus stigma terhadap penyandang kusta. Komitmen tersebut disampaikan Bupati Parigi Moutong H. Erwin Burase saat menghadiri Konferensi Nasional Kusta 2026 di Puri Agung Convention Hall, Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, Jumat (10/7/2026).

Kehadiran Bupati Erwin Burase dalam forum nasional tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong menyelaraskan kebijakan kesehatan daerah dengan program pemerintah pusat dalam mewujudkan Indonesia bebas kusta. Pada kesempatan itu, ia didampingi Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Parigi Moutong, Darlin.

Konferensi yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI mengusung tema “Percepatan Eliminasi Kusta: Komitmen Indonesia, Kolaborasi Global”. Forum tersebut mempertemukan pemerintah pusat, pemerintah daerah, organisasi internasional, serta berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat langkah bersama dalam menekan kasus kusta di Indonesia.

Selain menjadi ruang koordinasi nasional, konferensi itu juga membahas strategi penguatan layanan kesehatan primer, peningkatan penemuan kasus secara aktif, perluasan akses pengobatan, hingga penghapusan diskriminasi yang masih dialami sebagian penyandang kusta di berbagai daerah.

Acara tersebut dihadiri sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju, gubernur, wakil gubernur, bupati, wali kota, serta kepala dinas kesehatan dari berbagai provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia.

Dalam arahannya, Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian meminta seluruh pemerintah daerah menjadikan penanggulangan kusta sebagai salah satu prioritas pembangunan kesehatan. Menurutnya, keberhasilan eliminasi kusta akan berpengaruh terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia karena masyarakat yang sehat menjadi fondasi pembangunan daerah.

Ia menekankan pentingnya komitmen kepala daerah dalam memastikan seluruh tahapan penanganan berjalan optimal, mulai dari deteksi dini, pengobatan yang tuntas, pelacakan kontak erat, hingga edukasi kepada masyarakat agar tidak lagi muncul stigma terhadap penderita kusta.

Senada dengan hal tersebut, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin bersama Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengajak seluruh elemen bangsa membangun kesadaran bahwa kusta merupakan penyakit yang dapat disembuhkan.

Keduanya menegaskan bahwa anggapan kusta sebagai penyakit kutukan harus dihilangkan karena tidak sesuai dengan fakta medis. Dengan diagnosis dan pengobatan yang cepat serta tepat, penderita memiliki peluang sembuh total dan dapat kembali menjalani aktivitas secara normal.

Konferensi Nasional Kusta 2026 juga mendapat perhatian dari komunitas kesehatan dunia. Hadir dalam kegiatan tersebut Regional Director WHO Western Pacific Region (WPRO) Dr. Saia Ma’u Piukala serta WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination Yohei Sasakawa yang menyatakan dukungannya terhadap upaya Indonesia mempercepat eliminasi kusta melalui kolaborasi lintas sektor.

Dukungan internasional tersebut diharapkan semakin memperkuat langkah pemerintah Indonesia dalam meningkatkan kapasitas pelayanan kesehatan, memperluas akses pengobatan, serta mempercepat pencapaian target eliminasi kusta secara nasional.

Menanggapi arahan pemerintah pusat, Bupati Erwin Burase memastikan Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong akan mengoptimalkan berbagai program penanggulangan kusta hingga ke tingkat pelayanan kesehatan dasar.

Menurutnya, penguatan peran Dinas Kesehatan dan seluruh puskesmas menjadi langkah penting untuk mempercepat penemuan kasus sejak dini sehingga pasien dapat segera memperoleh pengobatan dan tidak mengalami komplikasi maupun penularan yang lebih luas.

“Kami di Parigi Moutong berkomitmen penuh untuk mengawal percepatan eliminasi kusta ini. Langkah konkret akan kita perkuat, mulai dari menginstruksikan Dinas Kesehatan dan Puskesmas untuk lebih aktif melakukan deteksi dini, memastikan ketersediaan obat, hingga melakukan edukasi masif ke masyarakat agar tidak ada lagi stigma atau pengucilan terhadap penderita kusta,” ujar Erwin Burase.

Ia menambahkan, edukasi kepada masyarakat menjadi salah satu aspek yang tidak kalah penting dalam upaya eliminasi kusta. Informasi yang benar mengenai penyebab, penularan, hingga proses pengobatan diyakini mampu mengurangi rasa takut maupun diskriminasi terhadap penyandang kusta.

Selain itu, pemerintah daerah akan memperkuat koordinasi dengan tenaga kesehatan, pemerintah desa, kader kesehatan, dan berbagai elemen masyarakat agar upaya pencegahan serta penanganan penyakit dapat menjangkau seluruh wilayah, termasuk daerah yang memiliki akses pelayanan kesehatan terbatas.

Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan layanan kesehatan apabila menemukan gejala kusta, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan angka kecacatan akibat keterlambatan pengobatan dapat ditekan.

Bagi Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong, partisipasi dalam Konferensi Nasional Kusta 2026 tidak hanya menjadi forum koordinasi, tetapi juga momentum memperkuat implementasi kebijakan kesehatan di daerah. Berbagai strategi yang dibahas dalam konferensi akan menjadi acuan dalam menyusun langkah-langkah percepatan eliminasi kusta yang melibatkan pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat.

Melalui sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, organisasi internasional, serta masyarakat, Parigi Moutong menargetkan upaya pencegahan, penemuan kasus, pengobatan, dan edukasi dapat berjalan lebih efektif. Komitmen tersebut diharapkan mampu mendukung target Indonesia bebas kusta sekaligus meningkatkan derajat kesehatan masyarakat hingga ke tingkat desa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *