Anwar Hafid Dorong Transformasi Masjid Jadi Ruang Inklusif Anak Muda Lewat Program BERANI Berkah

/ Foto : Adpim Pemprov Sulteng

Soalparigi.ID — Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, menegaskan pentingnya transformasi fungsi masjid menjadi ruang yang inklusif dan ramah bagi generasi muda sebagai bagian dari penguatan kehidupan keagamaan. Hal itu disampaikannya saat menghadiri kegiatan Subuh Berkah bersama ribuan juru dakwah (da’i) se-Pulau Sulawesi di Masjid Raya Baitul Khairaat, Sabtu (18/04/2026).

Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi keagamaan, tetapi juga dimanfaatkan sebagai momentum strategis untuk mensosialisasikan program unggulan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, BERANI Berkah. Program ini diarahkan untuk memperkuat peran masjid sebagai pusat pembinaan umat sekaligus ruang sosial yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Dalam sambutannya, Anwar Hafid menekankan bahwa kehadiran ribuan da’i dari berbagai daerah di Pulau Sulawesi merupakan peluang besar untuk menyatukan visi dalam membangun kehidupan keagamaan yang lebih terbuka dan berdampak luas. Ia menilai, peran para da’i sangat krusial dalam menyampaikan nilai-nilai keislaman yang tidak hanya normatif, tetapi juga relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

Menurutnya, BERANI Berkah bukan sekadar program simbolik, melainkan gerakan nyata yang dirancang untuk mendorong perubahan sosial berbasis nilai keagamaan. Pemerintah, kata dia, ingin memastikan bahwa pembangunan di Sulawesi Tengah tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga menyentuh dimensi spiritual dan sosial masyarakat.

Ia menyampaikan bahwa penguatan fungsi masjid menjadi salah satu pilar utama dalam program tersebut. Masjid diharapkan tidak lagi dipandang sebagai tempat ibadah yang kaku, melainkan sebagai pusat aktivitas umat yang hidup, terbuka, dan mampu menjangkau berbagai kalangan, termasuk generasi muda yang selama ini dinilai mulai berjarak dari lingkungan masjid.

Anwar Hafid secara khusus menyoroti pentingnya pendekatan baru dalam memakmurkan masjid. Ia mengutip pandangan Hanan Attaki yang menekankan perlunya strategi dakwah yang lebih adaptif dan sesuai dengan karakter generasi muda masa kini. Pendekatan tersebut dinilai mampu menciptakan suasana masjid yang lebih bersahabat tanpa mengurangi nilai sakralnya.

Ia mencontohkan langkah sederhana yang dapat dilakukan pengelola masjid, seperti menyediakan fasilitas yang membuat anak muda merasa nyaman untuk datang dan berinteraksi. Konsep ini, menurutnya, bukan untuk mengubah fungsi utama masjid, tetapi justru memperluas daya tariknya agar menjadi ruang yang hidup dan relevan bagi semua kalangan.

Gagasan menjadikan masjid sebagai ruang sosial yang inklusif juga dipandang sebagai bagian dari upaya pencegahan terhadap berbagai persoalan sosial di kalangan generasi muda. Dengan mendekatkan mereka ke lingkungan masjid, diharapkan akan terbentuk karakter yang lebih kuat, berlandaskan nilai moral dan spiritual.

Lebih jauh, Anwar Hafid menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, ulama, dan masyarakat dalam mengimplementasikan program BERANI Berkah. Ia menilai, keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada kolaborasi yang solid, terutama dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang moderat dan membangun.

Ia juga mengingatkan bahwa tantangan dakwah ke depan semakin kompleks, seiring dengan perkembangan teknologi dan perubahan pola interaksi sosial. Oleh karena itu, para da’i diharapkan mampu beradaptasi dengan memanfaatkan berbagai media dan pendekatan kreatif agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh generasi muda.

Kegiatan Subuh Berkah ini sekaligus menjadi ruang konsolidasi bagi para da’i untuk memperkuat peran mereka sebagai agen perubahan di tengah masyarakat. Dengan jumlah peserta yang mencapai ribuan orang, forum ini dinilai memiliki potensi besar dalam menyebarluaskan gagasan pembaruan dalam pengelolaan masjid dan strategi dakwah.

Di sisi lain, program BERANI Berkah juga mencerminkan arah kebijakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah yang ingin menghadirkan pembangunan yang lebih holistik. Tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga memperhatikan aspek pembinaan mental dan spiritual masyarakat sebagai fondasi utama pembangunan jangka panjang.

Langkah ini dinilai relevan dengan kondisi masyarakat yang membutuhkan pendekatan pembangunan yang lebih menyeluruh. Dengan menjadikan masjid sebagai pusat peradaban, pemerintah berharap dapat menciptakan ruang yang tidak hanya mendukung aktivitas ibadah, tetapi juga menjadi tempat edukasi, diskusi, dan pemberdayaan masyarakat.

Ke depan, implementasi program ini akan diuji pada sejauh mana masjid-masjid di Sulawesi Tengah mampu bertransformasi menjadi ruang yang inklusif dan adaptif. Perubahan tersebut tentu membutuhkan komitmen bersama, baik dari pemerintah, pengelola masjid, maupun masyarakat itu sendiri.

Dengan dorongan tersebut, Anwar Hafid berharap masjid tidak hanya menjadi simbol keagamaan, tetapi juga motor penggerak perubahan sosial yang mampu menjawab tantangan zaman. Jika berhasil, pendekatan ini berpotensi menciptakan generasi muda yang tidak hanya religius, tetapi juga aktif berkontribusi dalam pembangunan daerah.

Pada akhirnya, keberhasilan BERANI Berkah akan sangat ditentukan oleh konsistensi pelaksanaan dan partisipasi masyarakat. Namun, arah kebijakan yang menempatkan masjid sebagai pusat kehidupan sosial dan spiritual menunjukkan upaya serius pemerintah dalam membangun Sulawesi Tengah yang lebih inklusif, aman, dan berdaya saing melalui pendekatan berbasis nilai keagamaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *