Soalparigi.ID – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) telah memasuki hari ke-10. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto mengungkap tiga faktor utama yang membuat proses pemadaman masih menghadapi kendala.
Kendala pertama adalah kondisi medan yang ekstrem. Sejumlah titik api berada di kawasan dengan kemiringan lereng hingga 80 derajat sehingga sulit dijangkau oleh personel melalui jalur darat. Kondisi tersebut juga menjadi pertimbangan keselamatan bagi tim yang berada di lapangan.
Kendala kedua berkaitan dengan keterbatasan sumber air. Pasokan air untuk mendukung operasi pemadaman saat ini masih mengandalkan sumber air dari kawasan Ranu Pani.
Sementara kendala ketiga adalah faktor cuaca. Kondisi atmosfer dinilai belum mendukung pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk memicu hujan buatan. Namun, berdasarkan analisis BMKG, potensi pertumbuhan awan hujan diperkirakan mulai muncul pada pertengahan Agustus.
Hingga kini, luas kawasan yang terdampak kebakaran mencapai sekitar 889 hektare. Area tersebut tersebar di empat wilayah administratif, yakni Kabupaten Probolinggo, Lumajang, Malang dan Pasuruan.
Meski menghadapi berbagai kendala, BNPB optimistis penanganan kebakaran di dua titik utama dapat diselesaikan sesuai target pada Jumat mendatang.
BNPB bersama BPBD provinsi serta BPBD kabupaten/kota terus melakukan koordinasi untuk mempercepat proses pemadaman. Penyelesaian penanganan Karhutla di kawasan Bromo juga dinilai penting agar armada helikopter water bombing dapat segera dialihkan untuk mendukung penanganan bencana di wilayah lain yang membutuhkan.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi kebakaran, terutama di tengah kondisi cuaca yang masih berisiko terhadap terjadinya Karhutla.








