Rachmat Syah Soroti Lambannya Respons Bank Sulteng, Nasabah Butuh Kepastian Layanan

Rachmat Syah Tawainella, SH.MM Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah dapil Parigi Moutong Fraksi Nasdem / Foto: RONI

Soalparigi.id — Lambannya komunikasi dan belum jelasnya kepastian pemulihan layanan PT Bank Sulteng kembali menjadi sorotan setelah redaksi masih menemukan mesin ATM yang tidak dapat digunakan sehari setelah rapat dengar pendapat (RDP) Komisi II DPRD Sulawesi Tengah bersama pihak bank, Selasa (27/10/2026).

Anggota Komisi II DPRD Sulteng, Rachmatsyah Tawainella atau Rachmat Syah, menyoroti temuan tersebut dan meminta Bank Sulteng memberikan kepastian kepada nasabah mengenai kondisi layanan, langkah penanganan, serta target normalisasi sistem.

Berdasarkan pantauan redaksi pada Rabu (28/10/2026), dua mesin ATM Bank Sulteng di Kota Palu masih berstatus maintenance dan tidak dapat digunakan untuk transaksi penarikan tunai maupun transfer.

Kedua lokasi tersebut berada di area pintu masuk Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah, Jalan Setia Budi Nomor 9, Kelurahan Besusu Tengah, serta di Kantor Gubernur Sulawesi Tengah, Jalan Sam Ratulangi Nomor 101, Kota Palu.

Temuan ini menjadi perhatian karena sehari sebelumnya, dalam RDP bersama Komisi II DPRD Sulteng, pihak direksi Bank Sulteng menyampaikan bahwa pelayanan penarikan tunai, ketersediaan uang di mesin ATM, maupun transaksi internal bank tidak mengalami masalah.

Namun, pantauan redaksi di dua lokasi tersebut menunjukkan mesin ATM masih belum dapat digunakan. Kondisi ini memerlukan penjelasan lebih terperinci dari pihak bank, terutama mengenai cakupan gangguan dan perbedaan antara keterangan dalam rapat dengan kondisi layanan yang ditemukan di lapangan.

Dalam keterangannya setelah dimintai tanggapan mengenai temuan tersebut, Rachmat Syah menekankan bahwa nasabah membutuhkan informasi yang jelas dan dapat dijadikan pegangan, bukan sekadar penjelasan umum mengenai proses perbaikan sistem.

“Bank Sulteng harus memberikan kepastian kepada nasabah. Kalau masih ada ATM yang belum bisa digunakan, masyarakat perlu mendapat penjelasan mengenai kendalanya, layanan apa saja yang terdampak, dan kapan diperkirakan kembali normal. Jangan sampai nasabah harus mencari tahu sendiri tanpa informasi yang jelas,” ujar Rachmat Syah kepada media ini saat dikonfirmasi melalui telefon, Rabu (28/10/26) sore.

Menurutnya, pembenahan sistem perbankan memang penting, terutama untuk menjaga keamanan transaksi dan melindungi dana nasabah. Namun, proses tersebut perlu diimbangi dengan komunikasi publik yang cepat, transparan, dan menjangkau seluruh nasabah yang terdampak.

ATM Bank Sulteng Jalan Setia Budi Nomor 9, Kelurahan Besusu Tengah, Kota Palu (kiri) dan ATM di Kantor Gubernur Sulawesi Tengah, Jalan Sam Ratulangi Nomor 101, Palu. (kanan).

Sorotan terhadap komunikasi Bank Sulteng sebelumnya telah dijawab oleh Direktur Kepatuhan Bank Sulteng, Judy Koagow, saat memberikan keterangan kepada wartawan usai RDP. Ketika ditanya mengenai lambatnya penyampaian informasi kepada publik, Judy mengakui masih terdapat persoalan dalam sosialisasi informasi dari internal bank kepada nasabah.

Baca juga: Bank Sulteng Dinilai Lamban, Usai RDP bersama Komisi II DPRD Sulawesi Tengah Masih Ditemukan ATM Maintenance di Palu

“Walaupun kami sudah sampaikan secara internal, tetapi rupanya dari pihak internal kami, cabang-cabang belum mensosialisasikan kepada masyarakat, kepada nasabahnya,” ujar Judy.

Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa penyampaian informasi internal belum sepenuhnya diteruskan oleh kantor-kantor cabang kepada masyarakat. Padahal, pemberitahuan mengenai gangguan layanan dibutuhkan agar nasabah dapat menyiapkan alternatif transaksi dan menghindari kendala dalam memenuhi kebutuhan pembayaran.

Rachmat Syah mendorong agar persoalan komunikasi tersebut menjadi bahan evaluasi manajemen Bank Sulteng. Informasi mengenai gangguan maupun pemulihan layanan, menurut draf pernyataan yang perlu dikonfirmasi, semestinya disampaikan secara berkala melalui kanal resmi bank dan kantor cabang.

“Yang perlu menjadi perhatian bukan hanya bagaimana sistem diperbaiki, tetapi juga bagaimana nasabah memperoleh informasi selama proses itu berlangsung. Komunikasi harus dilakukan sejak awal, termasuk menjelaskan alternatif layanan yang tersedia. Dengan begitu, masyarakat tidak dibiarkan berada dalam ketidakpastian,” tutur Rachmat

Dalam RDP, pihak Bank Sulteng menjelaskan bahwa pembaruan sistem dilakukan sebagai langkah penguatan keamanan perbankan. Direktur Kepatuhan Bank Sulteng menyebut penguatan infrastruktur ATM yang dikerjakan melalui investasi perangkat oleh PT Telkom telah diselesaikan dan hasilnya diserahkan kepada Bank Indonesia untuk dinilai. Pembukaan kembali transaksi antarbank masih memerlukan asesmen dari Bank Indonesia.

Sementara proses tersebut berlangsung, Bank Sulteng menyatakan membuka kas operasional di seluruh kantor cabang pukul 08.00 hingga 16.00, termasuk Sabtu dan Minggu. Pihak bank juga menyampaikan bahwa kepala cabang diberi kewenangan membantu transaksi tertentu secara manual dalam kondisi khusus.

Meski demikian, keberadaan layanan alternatif perlu disertai informasi yang mudah diakses dan kepastian mengenai transaksi yang dapat dilayani. Bagi nasabah yang tinggal jauh dari kantor cabang, ketidakjelasan informasi dapat menambah waktu dan biaya untuk memperoleh layanan perbankan.

Rachmat Syah berharap Bank Sulteng segera menindaklanjuti temuan di lapangan dan memastikan setiap layanan yang masih bermasalah mendapat penanganan. Ia juga mendorong agar hasil evaluasi disampaikan secara terbuka sehingga masyarakat mengetahui perkembangan pemulihan, bukan hanya mendengar penjelasan bahwa perbaikan sedang berlangsung.

Hingga pantauan redaksi pada Rabu (28/10/2026), dua ATM yang disebutkan masih belum dapat digunakan untuk penarikan tunai maupun transfer. Redaksi belum memperoleh keterangan mengenai penyebab spesifik gangguan pada kedua mesin tersebut maupun jadwal pasti normalisasinya.

Bank Sulteng perlu memberikan penjelasan resmi mengenai kondisi terkini, cakupan gangguan, serta perkiraan pemulihan layanan. Kejelasan itu penting agar nasabah dapat menentukan alternatif transaksi dan memperoleh kepastian atas layanan yang mereka butuhkan.

Sebagai bank pembangunan daerah, Bank Sulteng tidak hanya dituntut menjaga keamanan sistem, tetapi juga memastikan komunikasi dan pelayanan kepada nasabah berjalan dengan baik. Kepercayaan masyarakat akan terjaga apabila pembenahan sistem disertai penanganan yang terukur, informasi yang terbuka, dan kepastian layanan yang dapat dirasakan langsung oleh nasabah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *