Soalparigi.ID — Sulawesi Tengah tidak pernah kehabisan orang yang memilih peduli. Di tengah kesibukan menjalankan amanah sebagai Ketua KONI Provinsi Sulawesi Tengah, Fathur Razaq menyempatkan diri melihat langsung kehidupan warga yang membutuhkan perhatian. Tanpa sorotan berlebihan, langkahnya membawa ia ke sebuah sudut sederhana di Kelurahan Kampal, Kabupaten Parigi Moutong, Rabu sore, 12/8/2026.
Sore itu pantauan soalparigi.id, bersama Rezki Samadani, salah seorang putra Parigi Moutong yang dikenal aktif dalam kegiatan sosial, Fathur berjalan menuju sebuah gazebo di salah satu fasilitas umum.
Langkahnya perlahan. Tidak ada suasana seremoni. Tidak ada panggung. Hanya perjalanan menuju sebuah tempat yang mungkin bagi sebagian orang hanyalah gazebo biasa.
Namun bagi sebuah keluarga, tempat itu adalah rumah.
Di balik dinding kain yang dipasang seadanya, tinggal Om Kuring, sapaan akrabnya, bersama istri dan seorang anaknya.
Gazebo taman menjadi tempat mereka berteduh. Atap gazebo taman mereka rasakan dari celah-celah bangunan, sementara lembaran kain menjadi dinding yang membatasi ruang hidup mereka dengan lingkungan sekitar.
Di tempat sederhana itulah keluarga tersebut menjalani hari-hari mereka.
Kunjungan Fathur menjadi sebuah perjumpaan kecil yang mempertemukan dua kehidupan dalam ruang yang sederhana. Ia datang untuk melihat dari dekat, mendengar cerita, dan menyaksikan sendiri bagaimana sebuah keluarga bertahan dengan segala keterbatasannya.
Bagi Fathur, mungkin ini hanya jeda dari kesibukan. Tetapi bagi keluarga Om Kuring, perhatian yang datang ke tempat mereka tinggal bisa memiliki arti yang jauh lebih besar.
Sebab persoalan masyarakat tidak selalu berada di tempat yang ramai, di depan kamera, atau di ruang-ruang resmi. Sebagian justru tersembunyi di balik dinding kain, di sudut fasilitas umum, dan di tempat-tempat yang setiap hari dilewati banyak orang tanpa disadari.
Sore itu, sebuah gazebo sederhana di Kampal seolah bercerita tentang sisi lain kehidupan masyarakat Parigi Moutong.
Tentang keluarga yang tetap bertahan.
Tentang keterbatasan yang tidak selalu terdengar.
Dan tentang kepedulian yang tidak harus menunggu sorotan untuk dilakukan.
Di tengah kesibukan dan hiruk-pikuk jabatan, serta keistimewaan dari seorang anak pejabat tinggi daerah Fathur memilih melangkahkan kaki ke tempat yang sederhana itu.
Bukan sekadar untuk melihat sebuah gazebo. Melainkan untuk melihat manusia yang hidup di dalamnya.








