Guru Viral Perbaiki Pintu Kelas, Najib Nadir Dapat Apresiasi Pemprov Sulteng di HUT ke-62

/ Foto : Adpim Pemprov Sulteng

Soalparigi.ID — Aksi sederhana seorang guru di pelosok Sulawesi Tengah berujung perhatian luas. Najib Nadir, yang sebelumnya viral karena memperbaiki sendiri pintu kelas rusak agar proses belajar tetap berjalan, kini menerima apresiasi dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 daerah tersebut.

Momen itu berlangsung dalam rangkaian kegiatan Semarak Sulteng Nambaso, yang menjadi bagian dari perayaan tahunan provinsi. Penghargaan diberikan sebagai bentuk pengakuan atas dedikasi Najib yang tetap menjalankan tugasnya di tengah keterbatasan sarana pendidikan di wilayah terpencil.

Apresiasi tersebut diserahkan langsung oleh Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Reny Lamadjido, pada Jumat (17/4/2026). Kehadiran pemerintah dalam momen ini dinilai bukan sekadar seremoni, tetapi juga sinyal bahwa persoalan pendidikan di daerah terpencil mulai mendapat perhatian lebih serius.

Najib Nadir mengaku tidak menyangka aksi yang ia anggap sebagai tanggung jawab biasa justru mendapat perhatian hingga tingkat provinsi. Baginya, memperbaiki fasilitas kelas bukan sesuatu yang luar biasa, melainkan kebutuhan mendesak agar siswa tetap bisa belajar dengan nyaman.

“Bagi kami, ini bukan sekadar penghargaan. Ini menjadi penyemangat untuk terus mengabdi, terutama di daerah dengan berbagai keterbatasan,” ujarnya.

Ia juga menyinggung soal kewenangan pengelolaan sekolah dasar yang berada di bawah pemerintah kabupaten/kota. Namun, ia melihat perhatian dari pemerintah provinsi sebagai bentuk kepedulian lintas batas administrasi yang diharapkan bisa membawa dampak lebih luas.

“Awalnya kami sempat heran, tetapi kami memaknai ini sebagai bentuk kepedulian terhadap pendidikan di Sulawesi Tengah secara keseluruhan,” katanya.

Sebelumnya, Najib menjadi sorotan publik setelah memperbaiki pintu kelas yang rusak akibat sering dimasuki hewan ternak. Kondisi tersebut mengganggu kegiatan belajar mengajar karena ruang kelas tidak lagi aman dan nyaman digunakan.

Dengan peralatan seadanya, ia memperbaiki pintu tersebut secara mandiri. Tindakan itu kemudian tersebar di media sosial dan memicu berbagai respons dari masyarakat, mulai dari apresiasi hingga kritik terhadap kondisi fasilitas pendidikan di daerah terpencil.

Fenomena ini membuka kembali diskusi lama mengenai kesenjangan infrastruktur pendidikan antara wilayah perkotaan dan pelosok. Di banyak daerah terpencil, persoalan dasar seperti ruang kelas layak, akses air bersih, hingga perlindungan bangunan sekolah dari lingkungan sekitar masih menjadi tantangan nyata.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa beban guru di daerah tidak hanya sebatas mengajar, tetapi juga sering kali merangkap sebagai pengelola fasilitas, bahkan perbaikan infrastruktur sederhana. Dalam konteks ini, dedikasi seperti yang ditunjukkan Najib menjadi potret nyata dari ketimpangan yang masih perlu dibenahi.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah sendiri melalui program Berani Cerdas menyatakan komitmennya untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Program ini menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota agar pembangunan pendidikan tidak berjalan sendiri-sendiri.

Langkah kolaboratif ini dinilai penting mengingat kewenangan pendidikan dasar berada di pemerintah daerah. Tanpa sinergi yang kuat, upaya peningkatan kualitas pendidikan berpotensi terhambat oleh batasan administratif dan keterbatasan anggaran di masing-masing wilayah.

Apresiasi terhadap Najib Nadir juga bisa dibaca sebagai upaya membangun narasi baru bahwa perhatian terhadap pendidikan tidak hanya berhenti pada program, tetapi juga pada individu-individu yang menjalankan peran penting di lapangan.

Namun demikian, penghargaan semata tidak cukup jika tidak diikuti dengan perbaikan sistemik. Peristiwa ini justru menegaskan perlunya langkah konkret untuk memastikan seluruh sekolah, termasuk di daerah terpencil, memiliki fasilitas yang layak dan aman.

Di sisi lain, kisah Najib juga mengandung pesan kuat tentang makna pengabdian. Di tengah berbagai keterbatasan, masih ada tenaga pendidik yang memilih bertahan dan berbuat lebih demi masa depan siswa.

Pengabdian seperti ini sering kali luput dari sorotan, hingga akhirnya viral dan menarik perhatian publik. Padahal, realitas serupa kemungkinan besar masih banyak terjadi di berbagai wilayah lain.

Perhatian yang muncul dari kasus ini diharapkan tidak bersifat sementara. Pemerintah dan pemangku kepentingan pendidikan perlu menjadikannya sebagai momentum untuk mempercepat pemerataan fasilitas pendidikan.

Dengan demikian, tidak ada lagi guru yang harus memperbaiki sendiri ruang kelas demi memastikan kegiatan belajar tetap berlangsung.

Pada akhirnya, apresiasi kepada Najib Nadir bukan hanya tentang penghargaan individu, tetapi juga cermin dari kondisi pendidikan yang masih membutuhkan perhatian serius. Jika ditindaklanjuti dengan kebijakan nyata, momentum ini bisa menjadi titik awal perubahan menuju sistem pendidikan yang lebih merata dan berkeadilan di Sulawesi Tengah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *