Banjir dan Gempa di Parigi Moutong Berdampak pada 402 KK, Pemkab Prioritaskan Pemulihan Infrastruktur

/ Foto : Diskominfo Parimo

Soalparigi.ID – Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong memprioritaskan pemulihan infrastruktur dan penanganan dampak kesehatan pascabanjir dan gempa bumi yang melanda sejumlah wilayah. Berdasarkan data terbaru, sebanyak 402 kepala keluarga atau 903 jiwa terdampak banjir, sementara jumlah rumah yang mengalami kerusakan akibat gempa bumi meningkat menjadi 92 unit.

Untuk memastikan penanganan berjalan optimal, Bupati Parigi Moutong H. Erwin Burase bersama Wakil Bupati H. Abdul Sahid turun langsung meninjau sejumlah lokasi terdampak pada Senin (22/6/2026). Kunjungan tersebut turut didampingi Kapolres Parigi Moutong AKBP Hendrawan A.N., unsur Forkopimda, anggota DPRD, serta sejumlah organisasi perangkat daerah terkait.

Peninjauan diawali di Desa Lobu Mandiri, Kecamatan Parigi Barat. Di wilayah ini, rombongan melihat secara langsung kondisi jembatan yang mengalami kerusakan akibat terjangan banjir. Infrastruktur tersebut menjadi salah satu akses penting bagi aktivitas masyarakat setempat.

Selanjutnya, rombongan menuju Desa Pombalowo, Kecamatan Parigi. Di lokasi ini, pemerintah daerah menyerahkan bantuan sembako kepada 54 kepala keluarga yang terdampak banjir. Sebelumnya, sebagian warga sempat mengungsi di musala sebelum akhirnya kembali ke rumah masing-masing setelah kondisi mulai membaik.

Peninjauan juga dilakukan di Desa Dolago Padang untuk melihat kerusakan jaringan irigasi yang terdampak banjir. Sementara di Desa Masari, pemerintah memeriksa kondisi pipa saluran air menuju area persawahan yang ambruk akibat derasnya arus air.

Di Desa Tolai Induk, perhatian difokuskan pada kondisi jembatan yang mengalami kerusakan dan terancam ambruk. Sedangkan di Desa Lebagu, selain menyerahkan bantuan sembako kepada 11 kepala keluarga, pemerintah juga meninjau saluran air yang mengalami kerusakan.

Dalam rapat koordinasi penanganan bencana yang digelar di Posko Induk BPBD Kabupaten Parigi Moutong, Bupati Erwin Burase mengungkapkan bahwa hasil pendataan terbaru menunjukkan jumlah rumah yang terdampak gempa bumi meningkat signifikan dibandingkan data awal.

Pada tahap awal, kerusakan yang terdata hanya sekitar 11 unit rumah. Namun, setelah dilakukan pendataan lanjutan, jumlah rumah yang terdampak mencapai 92 unit. Pemerintah desa masih diberikan kesempatan untuk melaporkan apabila ditemukan kerusakan tambahan.

Sementara itu, dampak banjir tercatat mengenai 402 kepala keluarga dengan jumlah 903 jiwa. Sebanyak empat kepala keluarga atau sekitar 110 jiwa sempat mengungsi, namun seluruhnya kini telah kembali ke rumah masing-masing seiring surutnya air.

Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Parigi Moutong, dampak banjir tersebar di 12 desa yang berada di Kecamatan Parigi, Parigi Barat, Parigi Selatan, Torue, dan Balinggi.

Selain merendam permukiman warga, bencana juga menyebabkan kerusakan pada lahan pertanian dan perkebunan, tanggul yang jebol, jembatan rusak hingga putus, serta sejumlah fasilitas umum dan sosial yang saat ini masih dalam proses pendataan dan verifikasi.

Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong menetapkan sejumlah langkah prioritas dalam penanganan pascabencana. Salah satunya adalah mengantisipasi munculnya penyakit yang berpotensi terjadi setelah banjir, terutama melalui penguatan layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak.

Selain itu, pemerintah juga melakukan inventarisasi kerusakan dan mempercepat pemulihan berbagai infrastruktur yang terdampak, termasuk jalan, jembatan, tanggul, serta fasilitas umum lainnya.

Penyediaan jalur alternatif juga menjadi perhatian apabila akses utama masyarakat tidak dapat digunakan akibat kerusakan yang terjadi. Langkah tersebut dilakukan agar aktivitas ekonomi dan mobilitas warga dapat kembali berjalan normal.

Tidak hanya fokus pada penanganan jangka pendek, pemerintah daerah juga menekankan pentingnya mengidentifikasi faktor penyebab banjir sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana jangka panjang. Kajian tersebut diharapkan menjadi dasar dalam penyusunan langkah-langkah pencegahan agar dampak serupa dapat diminimalkan di masa mendatang.

Bupati Erwin Burase menegaskan bahwa penanganan bencana harus dilakukan secara cepat, tepat, dan terkoordinasi. Ia mengajak seluruh unsur pemerintah, aparat keamanan, serta masyarakat untuk memperkuat sinergi demi mempercepat pemulihan wilayah terdampak.

Dengan kondisi banjir yang mulai surut dan para pengungsi yang telah kembali ke rumah masing-masing, fokus pemerintah saat ini diarahkan pada pemulihan infrastruktur dan pemenuhan kebutuhan masyarakat agar aktivitas di wilayah terdampak dapat kembali berjalan normal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *