Muhlimin Bawa Pulang Lisensi Wasit, Komitmen Hestiwati Bangun Fondasi Tenis Parigi Moutong

Muhlimin wasit lisensi daerah diakui Pelti

Soalparigi.id — Tidak semua orang yang berperan dalam sebuah pertandingan tenis berdiri dengan raket di tangan. Di sisi lain lapangan, ada sosok yang justru bertugas memastikan setiap poin dimainkan dengan aturan yang sama, setiap keputusan diambil dengan adil, dan pertandingan berjalan dalam koridor sportivitas.

Peran itu kini berada di pundak Muhlimin.

Ia menjadi satu-satunya utusan Pengurus Kabupaten Persatuan Tenis Lapangan Indonesia (PELTI) Parigi Moutong yang mengikuti Pelatihan Wasit Tingkat Daerah Berlisensi Resmi PELTI Tahun 2026 di Kantor Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Sulawesi Tengah, Palu.

Selama tiga hari, 10 hingga 13 Agustus 2026, Muhlimin berhadapan dengan berbagai materi dan aturan pertandingan tenis yang menuntut ketelitian, ketegasan serta kemampuan mengambil keputusan secara cepat.

Kini, ia pulang membawa lisensi wasit. Namun bagi Muhlimin, capaian tersebut bukan sekadar selembar pengakuan atas kompetensinya. Ada tanggung jawab yang ikut dibawanya kembali ke Parigi Moutong.

“Menjadi satu-satunya wakil Parigi Moutong tentu menjadi kebanggaan tersendiri, tetapi di saat yang sama ini adalah amanah yang berat,” kata Muhlimin saat dihubungi, Jumat (14/8/2026).

Baginya, seorang wasit tidak cukup hanya mengetahui aturan. Di tengah pertandingan yang berlangsung cepat, wasit dituntut mampu menjaga ketenangan, ketegasan dan integritas ketika harus mengambil keputusan dalam hitungan detik.

“Pelatihan tiga hari kemarin sangat membuka wawasan. Seorang wasit tidak hanya dituntut menguasai Rules of Tennis, tetapi juga harus memiliki ketenangan, ketegasan dan integritas tinggi saat mengambil keputusan dalam hitungan detik di lapangan,” ujarnya.

Di situlah letak penting peran Muhlimin. Ketika atlet mengejar kemenangan, wasit justru berdiri untuk memastikan kemenangan itu diraih melalui pertandingan yang adil.

Tidak banyak sorotan diberikan kepada sosok yang berdiri di balik garis lapangan. Namun, satu keputusan yang tepat dapat menjaga pertandingan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Sebaliknya, keputusan yang keliru dapat memengaruhi jalannya pertandingan.

Karena itu, Muhlimin tidak ingin lisensi yang diperolehnya berhenti sebagai pencapaian pribadi. Ia ingin pengetahuan yang didapat selama pelatihan menjadi bekal untuk membantu meningkatkan kualitas pertandingan tenis di Parigi Moutong.

Langkah Muhlimin tersebut sekaligus menjadi bagian dari arah pembinaan yang sedang dibangun PELTI Parigi Moutong di bawah kepemimpinan Ketua PELTI Parigi Moutong, Hestiwati, S.KM., M.Kes.

Bagi Hestiwati, pembinaan tenis tidak semestinya hanya berhenti pada pencarian atlet dan pencapaian prestasi. Di balik atlet yang berdiri di podium, terdapat ekosistem yang harus dibangun secara bersamaan, mulai dari pelatih, wasit hingga perangkat pertandingan.

Sekretaris Umum PELTI Parigi Moutong, Iswan S. Adjam, mengatakan pengiriman Muhlimin ke pelatihan wasit berlisensi merupakan salah satu bentuk keseriusan organisasi dalam memperkuat sumber daya manusia tenis di daerah.

“Ibu Ketua Hestiwati berkomitmen penuh bahwa pembinaan tenis di Parigi Moutong tidak boleh hanya fokus pada pencetakan atlet. Fondasi pendukung seperti wasit dan pelatih berkualitas juga harus dibangun secara sejajar,” kata Iswan saat dihubungi melalui telepon, Jumat (14/8/2026).

Menurut Iswan, keberadaan wasit yang memiliki kompetensi dan lisensi resmi akan menjadi bagian penting dalam meningkatkan standar penyelenggaraan turnamen di Parigi Moutong.

“Mengirim Saudara Muhlimin adalah bukti nyata keseriusan kami untuk memastikan setiap kejuaraan lokal di Parimo kelak dipimpin oleh pengadil yang teruji dan diakui secara resmi. Ini investasi sumber daya manusia jangka panjang demi peningkatan mutu olahraga kita,” ujarnya.

Komitmen itu memperlihatkan bahwa pembangunan tenis di Parigi Moutong sedang diarahkan untuk tidak hanya mengejar jumlah atlet atau banyaknya pertandingan. Ada upaya membangun fondasi yang membuat setiap pertandingan memiliki standar, setiap atlet mendapat pengalaman bertanding yang baik, dan setiap kompetisi berlangsung dengan menjunjung aturan.

Bagi atlet-atlet muda, kehadiran wasit yang memahami regulasi secara baik juga menjadi bagian dari proses pembelajaran. Mereka tidak hanya belajar bagaimana memukul bola, menyusun strategi dan memenangkan pertandingan, tetapi juga belajar menghormati keputusan, memahami aturan dan menjaga sportivitas.

Muhlimin kini menjadi salah satu bagian dari fondasi itu.

Pelatihan di Palu telah selesai. Ia kembali ke Parigi Moutong dengan lisensi, pengetahuan dan tanggung jawab baru.

Dari tempatnya berdiri di garis lapangan, Muhlimin mungkin tidak akan menjadi sosok yang paling banyak disebut ketika sebuah turnamen berakhir. Namun, di balik pertandingan yang berlangsung tertib dan adil, akan selalu ada peran orang-orang seperti dirinya.

Dan bagi Hestiwati, langkah tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang lebih panjang, membangun tenis Parigi Moutong dari fondasinya, satu demi satu.

Sebab prestasi tidak selalu dimulai dari podium. Kadang, ia bermula dari seseorang yang berdiri di garis lapangan, memegang aturan dengan teguh, dan memastikan setiap pertandingan memberi ruang yang sama bagi siapa pun untuk berjuang meraih kemenangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *