Tanpa Agenda Resmi, Rachmat Syah Pilih Tetap Dekat dengan Masyarakat Bahas Gagasan Ruang Kreativitas bagi Generasi Muda

Rachmat syah Anleg DPRD Provinsi Sulawesi Tengah bersama masyarakat di salah satu cafe di Kota Parigi

Soalparigi.id – Kedekatan seorang wakil rakyat dengan masyarakat tidak semestinya hanya terlihat ketika agenda reses, kunjungan daerah pemilihan (kundapil), atau kegiatan resmi pemerintahan berlangsung. Di luar agenda formal tersebut, ruang pertemuan yang lebih santai justru dapat menjadi kesempatan untuk bertukar pikiran, mendengar keresahan, sekaligus merancang gagasan yang bermanfaat bagi pembangunan daerah.

Prinsip itu yang ingin dijaga Rachmatsyah Tawainella, S.H., M.M., anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, dalam membangun komunikasi dengan masyarakat di daerah pemilihannya, Kabupaten Parigi Moutong.

Bagi Rachmat Syah, sapaan yang dikenal masyarakat, hubungan antara wakil rakyat dan warga tidak seharusnya dibatasi oleh jadwal kegiatan maupun kepentingan politik. Waktu luang dapat dimanfaatkan untuk berdiskusi, membicarakan persoalan daerah, hingga menggali ide-ide baru yang berpotensi dikembangkan menjadi kegiatan produktif.

Dalam suasana yang tidak terlalu formal, percakapan dapat mengalir lebih terbuka. Masyarakat memiliki kesempatan menyampaikan pandangan, sementara wakil rakyat dapat memahami gagasan dan tantangan yang dihadapi warga, terutama generasi muda yang membutuhkan ruang untuk mengembangkan potensi diri.

“Bagi saya, menjadi wakil rakyat bukan hanya hadir ketika ada agenda reses, kunjungan daerah pemilihan, atau kegiatan pemerintahan. Kita juga harus membuka ruang komunikasi di luar kegiatan formal, karena banyak gagasan baik justru muncul ketika kita duduk bersama, berdiskusi, dan saling mendengarkan,” demikian pesan yang ingin ditegaskan Rachmat Syah saat menemui puluhan masyarakat di salah satu cafe di Kota Parigi, Selasa (20/10/26) malam.

Ia memandang, generasi muda Parigi Moutong memiliki potensi yang perlu mendapat ruang tumbuh. Kreativitas, kemampuan berorganisasi, minat di bidang olahraga, penguasaan teknologi, hingga keberanian membangun usaha merupakan modal yang dapat dikembangkan untuk mendorong kemajuan daerah.

Namun, potensi tersebut membutuhkan lingkungan yang mendukung. Anak-anak muda perlu memiliki ruang untuk bertemu, bertukar gagasan, belajar keterampilan, dan mengembangkan kegiatan yang sesuai dengan minat serta kebutuhan mereka.

Karena itu, pembicaraan mengenai pembangunan sumber daya manusia tidak cukup berhenti pada wacana. Diperlukan ide-ide yang dapat diterjemahkan menjadi kegiatan nyata, baik melalui komunitas, organisasi kepemudaan, kegiatan olahraga, pelatihan keterampilan, maupun ruang kolaborasi yang melibatkan berbagai pihak.

“Anak-anak muda harus diberi kesempatan untuk berkreasi dan menyampaikan gagasan. Jangan sampai mereka memiliki banyak ide, tetapi tidak mempunyai ruang untuk mengembangkannya. Kita perlu memikirkan bersama apa yang bisa dilakukan, siapa yang bisa dilibatkan, dan bagaimana gagasan itu dapat memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya,” ujarnya.

Sebagai anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Rachmat Syah memahami bahwa setiap upaya pembangunan harus mempertimbangkan kewenangan, kebutuhan masyarakat, serta kemampuan anggaran. Karena itu, gagasan yang berkembang melalui diskusi perlu dipetakan secara realistis agar dapat diperjuangkan atau ditindaklanjuti melalui jalur yang sesuai.

Baginya, kepedulian terhadap masyarakat tidak selalu harus ditunjukkan melalui kegiatan besar. Kesediaan meluangkan waktu, mendengar persoalan warga, dan memberikan ruang bagi anak muda untuk menyampaikan ide merupakan bagian dari upaya membangun hubungan yang lebih dekat antara masyarakat dan wakilnya.

Kedekatan tanpa sekat juga berarti tidak menempatkan masyarakat sebatas penerima program. Warga, khususnya generasi muda, perlu dilibatkan sebagai bagian dari proses mencari solusi dan merancang kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan daerah.

“Pembangunan daerah bukan hanya tugas pemerintah atau DPRD. Masyarakat juga harus menjadi bagian dari prosesnya. Saya ingin komunikasi seperti ini terus terjaga, sehingga kita bisa bersama-sama menemukan ide, membangun kegiatan, dan membuka lebih banyak kesempatan bagi generasi muda untuk berkembang,” tuturnya.

Di tengah berbagai tantangan pembangunan, ruang-ruang percakapan sederhana dapat menjadi awal bagi lahirnya gagasan yang lebih besar. Dari pertemuan tanpa protokoler hingga diskusi tentang masa depan daerah, kedekatan wakil rakyat dengan masyarakat diharapkan tidak berhenti sebagai simbol, melainkan tumbuh menjadi komunikasi yang berkelanjutan dan berorientasi pada kebutuhan warga.

Bagi Parigi Moutong, investasi terhadap sumber daya manusia, terutama generasi muda, merupakan bagian penting dari upaya menyiapkan masa depan daerah. Dan bagi Rachmat Syah, upaya tersebut dapat dimulai dari hal sederhana, hadir, mendengar, berdiskusi, dan membuka ruang agar lebih banyak gagasan masyarakat memperoleh kesempatan untuk diwujudkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *