Bupati Erwin Burase dan Arti Sebuah Pengabdian, Hestiwati Nanga Relakan Jabatan demi Peran Seorang Ibu

Erwin Burase Bupati Parigi Moutong bersama Istri Hestiwati Nanga/ foto: IST

Soalparigi.id – Tidak semua kesempatan yang berhasil diraih harus berakhir dengan pelantikan. Bagi Hestiwati Nanga, istri Bupati Parigi Moutong Erwin Burase, kesempatan menduduki jabatan pimpinan tinggi pratama yang sempat terbuka lebar akhirnya harus dilepaskan. Bukan karena gagal dalam seleksi, melainkan karena sebuah pertimbangan yang, menurut penuturan sang suami, berangkat dari tanggung jawab mereka sebagai orang tua.

Hestiwati sebelumnya menempati peringkat pertama pada dua formasi dalam seleksi terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama Kabupaten Parigi Moutong 2026. Namanya berada di urutan teratas untuk posisi Staf Ahli Bidang Sumber Daya Manusia, Pengembangan Kawasan dan Wilayah serta Kepala Dinas Kesehatan.

Namun, ketika 18 pejabat pimpinan tinggi pratama dilantik di Auditorium Kantor Bupati Parigi Moutong, Kamis (15/10/2026), nama Hestiwati tidak termasuk dalam daftar pejabat yang diambil sumpahnya.

Bupati Parigi Moutong Erwin Burase saat menyampaikan pidatonya usai melantik 18 Pejabat Eselon II / Foto: RONI

Di tengah sorotan publik atas hasil seleksi tersebut, keputusan itu menyisakan cerita lain tentang pilihan, keluarga, dan arti sebuah pengabdian. Erwin, yang memiliki kewenangan sebagai kepala daerah, mengungkapkan alasan tidak melantik istrinya dalam sambutan usai pelantikan.

Alasannya berkaitan dengan anak-anak mereka yang masih membutuhkan pendampingan orang tua, terutama si bungsu yang masih balita.

“Kalau Ibu bekerja di sini, siapa yang mengurus anak-anak di sana? Masa kita mau korbankan anak-anak? Saya bilang, kita orang tua ini egois kalau mementingkan diri sendiri, tetapi meninggalkan anak-anak yang masih bersekolah,” tutur Erwin.

Pernyataan itu memperlihatkan sisi personal di balik keputusan yang sebelumnya menjadi perhatian publik. Di tengah tuntutan pekerjaan dan kesempatan meniti karier, ada tanggung jawab keluarga yang tidak bisa begitu saja dikesampingkan.

Bagi seorang kepala daerah, waktu dan perhatian tersita oleh agenda pemerintahan, rapat, perjalanan dinas, serta berbagai urusan masyarakat. Begitu pula bagi pejabat pimpinan tinggi pratama yang harus memimpin organisasi perangkat daerah dengan tanggung jawab besar. Ketika kedua orang tua sama-sama memegang tanggung jawab tersebut, pembagian waktu untuk keluarga menjadi tantangan tersendiri.

Erwin kemudian menyampaikan bahwa Hestiwati berbesar hati menerima keputusan tersebut. Ia mengaku sang istri mempersilakan agar kesempatan itu diberikan kepada kandidat berikutnya.

“Alhamdulillah, Ibu Ketua PKK ini berbesar hati, menyampaikan silakan diganti saja nama saya, kasih yang berikutnya saja,” ujar Erwin.

Kalimat itu menjadi bagian paling menyentuh dari kisah tersebut. Sebab, Hestiwati bukan peserta yang berada di urutan bawah. Ia telah melewati tahapan seleksi dan memperoleh peringkat pertama pada dua formasi. Kesempatan itu tentu bukan sesuatu yang datang tanpa usaha dan proses panjang.

Namun, menurut penuturan Erwin, Hestiwati memilih menerima keadaan dan merelakan kesempatan tersebut.

Di sini, kebesaran hati tidak semata-mata terletak pada keputusan seorang suami untuk tidak melantik istrinya. Ada pula sikap seorang istri yang, sebagaimana disampaikan Erwin, bersedia menerima keputusan tersebut dan memberi ruang bagi kandidat lain untuk mengisi jabatan yang tersedia.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan profesional dan tanggung jawab sebagai orang tua terkadang menghadirkan pilihan yang tidak mudah. Jabatan dapat membuka kesempatan untuk berkontribusi lebih luas melalui birokrasi, tetapi keluarga juga membutuhkan kehadiran yang tidak selalu bisa digantikan oleh orang lain.

Terlebih, masa kanak-kanak tidak berlangsung selamanya. Anak-anak yang masih bersekolah membutuhkan pendampingan, perhatian, dan kedekatan orang tua dalam proses tumbuh kembang mereka. Bagi sebagian keluarga, pertimbangan itu menjadi bagian penting ketika harus menentukan prioritas di tengah kesibukan pekerjaan.

Meski demikian, keputusan tidak melantik Hestiwati juga tidak bisa dilepaskan dari konteks tata kelola pemerintahan. Sebelum pelantikan, posisinya sebagai istri kepala daerah yang menempati peringkat pertama pada dua formasi telah memunculkan pertanyaan publik mengenai potensi konflik kepentingan dalam pengisian jabatan.

Hestiwati memiliki hak sebagai aparatur sipil negara untuk mengikuti seleksi. Hasil peringkat pertama juga merupakan bagian dari hasil penilaian panitia seleksi. Namun, peringkat tersebut tidak dengan sendirinya menjamin pengangkatan karena keputusan akhir tetap harus melalui mekanisme yang ditentukan peraturan perundang-undangan.

Dalam situasi seperti ini, transparansi mengenai alasan dan proses pengambilan keputusan tetap penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat. Pertimbangan keluarga yang disampaikan bupati menjadi penjelasan personal, sedangkan aspek administratif pengisian jabatan tetap perlu dipastikan berjalan sesuai ketentuan.

Erwin sendiri dalam sambutannya mengingatkan para pejabat yang baru dilantik bahwa jabatan merupakan amanah dengan tanggung jawab besar. Ia meminta mereka bekerja dengan integritas dan kinerja yang terukur, serta menegaskan akan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan tugas masing-masing.

Pesan tersebut relevan dengan makna jabatan dalam pemerintahan, kedudukan bukan sekadar kehormatan, melainkan tanggung jawab yang harus dibuktikan melalui pelayanan kepada masyarakat.

Pada akhirnya, kisah Erwin dan Hestiwati bukan hanya tentang sebuah jabatan yang tidak jadi ditempati. Di dalamnya ada gambaran tentang keluarga yang harus menentukan prioritas di tengah tuntutan pekerjaan, serta pentingnya memastikan keputusan pejabat publik dapat dijelaskan secara terbuka.

Hestiwati tetap memiliki rekam jejak sebagai peserta yang menempati peringkat pertama pada dua formasi seleksi. Sementara itu, keputusan Erwin tidak melantiknya, sebagaimana ia jelaskan, berkaitan dengan pertimbangan pengasuhan anak.

Kebesaran hati dalam cerita ini bukan berarti mengabaikan aturan atau menutup ruang kritik. Justru, keteladanan seorang pemimpin perlu diuji melalui dua hal sekaligus, kesediaan menempatkan keluarga sebagai tanggung jawab yang penting dan keberanian memastikan setiap keputusan pemerintahan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

Sebab, jabatan dapat datang dan pergi. Kesempatan karier mungkin terbuka kembali. Namun, masa tumbuh kembang anak berjalan sekali dan tidak bisa diulang. Bagi orang tua, menjaga kehadiran pada masa-masa itu merupakan tanggung jawab yang nilainya tidak selalu bisa diukur dengan pangkat maupun kedudukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *