Soalparigi.id – Kebutuhan pasokan listrik menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan dalam mendukung pertumbuhan industri dan investasi di Sulawesi Tengah. Ketua Komisi III DPRD Sulteng, Dhandy Adhi Prabowo, menyoroti defisit listrik yang disebut diperkirakan mencapai 160 megawatt (MW).
Pernyataan itu disampaikan Dhandy saat menghadiri jamuan makan malam penyambutan Duta Besar Rusia di Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Tengah, Jalan Mohammad Yamin, Kota Palu, Selasa (20/10/2026). Dalam kegiatan tersebut, ia mewakili Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Tengah.
Menurut Dhandy, kecukupan pasokan listrik merupakan salah satu faktor penting dalam menunjang pembangunan daerah, terutama ketika aktivitas industri dan investasi terus berkembang.
Ia menilai, penjajakan kerja sama dengan mitra internasional dapat menjadi ruang untuk bertukar informasi mengenai teknologi energi yang berpotensi menjawab kebutuhan daerah.
Dalam pertemuan tersebut, peluang pengenalan teknologi pembangkit listrik dari perusahaan Rusia turut menjadi salah satu hal yang disoroti. Namun, peluang tersebut masih memerlukan pembahasan lebih lanjut dan belum dapat dipandang sebagai kesepakatan pembangunan pembangkit di Sulawesi Tengah.
Dhandy menilai, kebutuhan energi perlu menjadi perhatian dalam pembicaraan mengenai peluang kerja sama dengan Rusia. Pasokan listrik yang memadai dibutuhkan agar perkembangan investasi dan kegiatan ekonomi dapat berjalan seiring dengan kesiapan infrastruktur daerah.
Meski demikian, penjajakan teknologi energi perlu disertai kajian menyeluruh. Aspek kelayakan teknis dan ekonomi, keselamatan, dampak lingkungan, ketentuan regulasi, serta kesesuaian dengan kebutuhan sistem kelistrikan daerah perlu menjadi pertimbangan sebelum menentukan langkah lebih lanjut.
Dari sisi DPRD, pembahasan mengenai kebutuhan energi berkaitan dengan kepentingan pembangunan daerah. Karena itu, setiap peluang kerja sama diharapkan tidak hanya berorientasi pada pengenalan teknologi, tetapi juga mempertimbangkan manfaat dan kebutuhan masyarakat Sulawesi Tengah.
Dhandy berharap peluang yang muncul melalui kunjungan Duta Besar Rusia dapat ditindaklanjuti melalui komunikasi dan pembahasan yang lebih konkret antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan pihak terkait.
Informasi mengenai defisit listrik sebesar 160 MW masih perlu dikonfirmasi melalui data resmi agar cakupan wilayah, periode, dan kondisi pasokan yang dimaksud dapat dipastikan. Verifikasi tersebut penting untuk memberikan gambaran akurat mengenai kebutuhan energi Sulawesi Tengah serta menilai relevansi opsi teknologi yang sedang dijajaki.
Dengan demikian, pembicaraan mengenai kerja sama energi dapat diarahkan pada kebutuhan yang terukur dan pertimbangan teknis yang jelas, tanpa mendahului hasil kajian atau keputusan pihak berwenang.








