Hilang Semalaman di Laut Parigi, Nelayan Pelawa Baru Ditemukan Selamat Bertahan di Atas Rumpon

/ Foto : Polres Parigi Moutong

Soalparigi.ID — Seorang nelayan asal Desa Pelawa Baru, Kecamatan Parigi Tengah, Kabupaten Parigi Moutong, berhasil ditemukan dalam kondisi selamat setelah dilaporkan hilang di perairan Parigi selama hampir satu malam. Korban ditemukan tim pencarian gabungan pada Senin (8/6/2026) siang dalam kondisi lemas setelah berjam-jam terombang-ambing di tengah laut dan bertahan di atas sebuah rumpon.

Nelayan tersebut diketahui bernama Fano (35). Sebelumnya, ia dilaporkan hilang saat perjalanan pulang setelah memancing di perairan Parigi pada Minggu (7/6/2026) malam.

Keberhasilan menemukan korban tidak lepas dari operasi pencarian gabungan yang melibatkan Sat Polairud Polres Parigi Moutong, Basarnas, Ditpolairud Polda Sulawesi Tengah, TNI Angkatan Laut, pemerintah setempat, serta masyarakat nelayan yang turut membantu penyisiran di lokasi pencarian.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Fano berangkat melaut sekitar pukul 17.00 WITA untuk memancing di perairan Parigi. Setelah menyelesaikan aktivitasnya, korban bersama rekannya, Iki (12), kembali menuju daratan menggunakan perahu.

Dalam perjalanan pulang, korban yang bertugas sebagai juru mudi diduga terjatuh ke laut. Peristiwa tersebut tidak diketahui oleh rekannya yang berada di bagian depan perahu karena sempat tertidur selama perjalanan.

Perahu akhirnya tiba di daratan tanpa korban. Menyadari Fano tidak berada di dalam perahu, Iki kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada keluarga korban.

Kabar hilangnya nelayan tersebut langsung memicu kepanikan keluarga dan warga setempat. Masyarakat bersama keluarga korban segera melakukan pencarian secara mandiri menggunakan tiga perahu nelayan untuk menyisir area yang diperkirakan menjadi lokasi jatuhnya korban.

Upaya pencarian kemudian diperkuat setelah laporan diterima Sat Polairud Polres Parigi Moutong. Aparat kepolisian segera berkoordinasi dengan Basarnas dan unsur terkait lainnya untuk melaksanakan operasi pencarian secara terpadu.

Tim gabungan bergerak menuju lokasi menggunakan satu unit kapal Basarnas serta sejumlah perahu nelayan. Penyisiran dilakukan di beberapa titik yang diduga menjadi jalur pelayaran korban saat kembali dari lokasi memancing.

Operasi pencarian melibatkan sedikitnya 16 personel dan warga yang terdiri dari tiga anggota Basarnas, dua personel Sat Polairud Polres Parigi Moutong, dua personel Ditpolairud Polda Sulawesi Tengah, satu personel TNI AL, serta delapan warga nelayan yang mengenal kondisi perairan setempat.

Setelah beberapa jam melakukan pencarian, tim akhirnya menemukan korban sekitar pukul 14.00 WITA. Korban ditemukan berada di atas sebuah rumpon atau alat bantu penangkapan ikan yang terapung di tengah laut.

Saat ditemukan, Fano dalam keadaan sadar namun terlihat sangat kelelahan akibat bertahan hidup di laut selama berjam-jam. Kondisi fisiknya melemah karena harus menghadapi ombak dan cuaca di perairan terbuka tanpa perlengkapan keselamatan yang memadai.

Penemuan korban dalam keadaan hidup disambut haru oleh keluarga dan warga yang sejak pagi terus menunggu perkembangan proses pencarian.

Setelah berhasil dievakuasi, korban langsung dibawa ke RSUD Anuntaloko Parigi untuk menjalani pemeriksaan dan mendapatkan penanganan medis guna memastikan kondisi kesehatannya tetap stabil.

Kasat Polairud Polres Parigi Moutong, IPTU Noldy Wiliam Sualang, mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam operasi pencarian hingga korban berhasil ditemukan dengan selamat.

Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja sama yang solid antara aparat, tim penyelamat, pemerintah setempat, dan masyarakat yang bergerak cepat sejak laporan diterima.

“Alhamdulillah korban berhasil ditemukan dalam keadaan selamat. Keberhasilan ini merupakan hasil kerja sama yang baik antara personel Sat Polairud, Basarnas, Ditpolairud Polda Sulteng, TNI AL, pemerintah setempat, dan masyarakat nelayan yang bergerak cepat melakukan pencarian,” ujar IPTU Noldy.

Ia juga mengingatkan para nelayan agar selalu mengutamakan keselamatan saat melaut. Penggunaan alat keselamatan seperti pelampung serta memperhatikan kondisi cuaca sebelum berangkat melaut dinilai sangat penting untuk meminimalkan risiko kecelakaan di laut.

Menurutnya, sebagian besar kecelakaan laut yang menimpa nelayan sering kali dipengaruhi faktor cuaca, kelelahan, maupun kurangnya perlengkapan keselamatan selama beraktivitas di perairan.

Dengan ditemukannya korban dalam kondisi selamat, operasi pencarian gabungan resmi dinyatakan berakhir. Kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa aktivitas melaut memiliki risiko tinggi sehingga memerlukan kesiapan dan kewaspadaan yang maksimal.

Selain menunjukkan pentingnya respons cepat dalam operasi pencarian dan penyelamatan, peristiwa ini juga memperlihatkan kuatnya solidaritas masyarakat pesisir yang turut membantu proses pencarian hingga korban berhasil ditemukan. Pemerintah dan aparat berharap kejadian serupa dapat menjadi pelajaran bagi para nelayan untuk selalu mematuhi standar keselamatan demi mengurangi risiko kecelakaan saat beraktivitas di laut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *