Soalparigi.ID – Bupati Parigi Moutong diwakili oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Parigi Moutong, Zulfinasran Achmad, S.STP., M.A.P. menghadiri penerimaan dan pelepasan mahasiswa Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) Untad di Auditorium Kantor Bupati Parigi Moutong, Senin (12/10/2026).
Zulfinasran menyampaikan empat poin fokus utama mahasiswa PBL Untad terkait masalah Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), Stunting, dan Tuberkulosis (TBC). Mahasiswa diminta bekerja secara kolaboratif dengan pihak terkait dan masyarakat.
“Tadi saya sempat bicara dengan Pak Kepala Bappelitbangda, saya sempat bicara dengan Pak Kadis Kesehatan bahwa ada informasi ke kami dalam pelaksanaan PBL ini, ada empat poin utama yang mungkin menjadi fokus kepada adik-adik sekalian, para mahasiswa, yang mungkin perlu kita laksanakan di lapangan,” ujar Zulfinasran.
Empat fokus tersebut yakni Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), stunting, dan tuberkulosis (TB).
Angka Kematian Ibu maupun Angka Kematian Bayi merupakan indikator yang dapat dilihat dari data Puskesmas, Posyandu, Polindes, dan Dinas Kesehatan.
Zulfinasran menyebut terdapat 6 kematian ibu dan 46 kematian bayi di Parigi Moutong. Ia meminta mahasiswa PBL menganalisis penyebab dari kondisi tersebut.
“Nah, angka kematian ibu, angka kematian bayi ini merupakan salah satu bagian dalam penentuan IPM kita, Indeks Pembangunan Manusia kita. Dan IPM ini menjadi salah satu indikator penilaian dalam Pendistribusian Alokasi Dana Umum dan Alokasi Umum Di Daerah. Ini semua yang perlu untuk menjadi perhatian. Apakah yang terjadi di lapangan, kenapa? Itu yang perlu kita tahu,” ujar Zulfinasran.
Zulfinasran mengharapkan mahasiswa PBL Untad untuk melihat jumlah Kematian Ibu akibat kehamilan persalinan, atau masa nifas per 100.000 kelahiran sesuai definisi yang berlaku.
Bersama dosen pembimbing dan juga kolaborasi dengan pemerintah kecamatan dan pemerintah desa, Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong berharap adik-adik mahasiswa bisa mendata terkait Ibu Hamil dan perlu untuk memetakan Ibu Hamil bersama Ibu Bidan dan Puskesmas bersama-sama.
Zulfinasran juga meminta mahasiswa mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya pemeriksaan kehamilan serta mencari penyebab masih adanya ibu hamil yang belum rutin melakukan pemeriksaan.
Terkait permasalahan stunting, Zulfinasran menyampaikan bahwa stunting bukan hanya masalah tinggi atau tidak tingginya seseorang. Menurutnya, 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi periode yang perlu diperhatikan untuk mencegah stunting.
Zulfinasran menyampaikan dua jenis intervensi yang perlu dilakukan, yakni intervensi spesifik dan intervensi sensitif.
Pada poin keempat, Zulfinasran menyoroti tuberkulosis (TB) yang menurutnya mulai mengalami peningkatan di Parigi Moutong. Ia meminta mahasiswa melakukan pengamatan di lapangan serta memberikan edukasi kepada masyarakat terkait TB.
Zulfinasran juga berharap mahasiswa PBL Untad menggunakan pendekatan berbasis data agar keputusan dan intervensi yang dilakukan sesuai dengan kondisi di lapangan. Sehingga bukan hanya sekadar melaksanakan penyuluhan, tapi ada data yang perlu dipersiapkan.
“Oleh karena itu, tolong identifikasi betul-betul masalah, kumpulkan data awal bersama Puskesmas, bersama para bidan desa, bersama nakes yang lainnya, kader Posyandu maupun dari pemerintah desa, kemudian, tentukan sasaran prioritas berdasarkan data yang tadi dibayangkan. Kemudian, silakan susun program-program kegiatan, program intervensi yang harus dilakukan, baik itu sasaran kegiatan, kemudian jadwal mitra yang akan dilibatkan, kemudian indikator keberhasilan,” ujar Zulfinasran.
Sebelum mengakhiri sambutannya, Zulfinasran meminta mahasiswa melakukan evaluasi setelah pelaksanaan PBL selama kurang lebih satu bulan, termasuk mengukur perubahan pengetahuan sebelum dan sesudah kegiatan, jangkauan sasaran, layanan yang diberikan, serta tindak lanjut dan hasil yang dicapai. Kerja kolaboratif juga diperlukan untuk merangkul beberapa sektor lainnya agar terlibat dalam menyukseskan program tersebut. “Jangan kita nanti mengklaim penurunan AKI, AKB, stunting, TB hanya berdasarkan jumlah kegiatan selama PBL, tapi data yang merasakan terjadi penurunan,” ujar Zulfinasran.








