Soalparigi.ID — Keterbatasan anggaran membuat Kabupaten Parigi Moutong hanya mengirimkan kontingen pada dua cabang olahraga di Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) ke-24 tingkat Provinsi Sulawesi Tengah. Namun, keterbatasan itu tidak menyurutkan optimisme daerah untuk tetap bersaing dan membawa pulang prestasi dari Kabupaten Buol.
Parigi Moutong mengikuti bola voli putra-putri dan sepak takraw putra, dari empat cabang olahraga yang dipertandingkan pada POPDA 2026. Dua cabang lainnya, yakni sepak bola dan basket, tidak diikuti karena anggaran yang tersedia tidak mencukupi untuk membiayai keikutsertaan pada seluruh cabang.
Ketua Kontingen POPDA Parigi Moutong yang juga Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Parigi Moutong menyampaikan, kontingen yang diberangkatkan berjumlah 50 orang. Mereka terdiri atas 29 atlet, lima pelatih, tiga tim medis, serta 19 official dan pendamping.
Rinciannya, 12 atlet memperkuat tim bola voli putra, 12 atlet bola voli putri, dan lima atlet turun pada cabang sepak takraw putra.
“Dengan semangat juang para atlet Parigi Moutong menjadi tekad pelatih untuk meraih medali emas,” kata Ketua Kontingen dalam laporan kesiapan kontingen.
POPDA ke-24 tingkat Provinsi Sulawesi Tengah berlangsung pada 22–29 Agustus 2026 di Kabupaten Buol. Tahun ini, ajang tersebut mempertandingkan bola voli, sepak takraw, sepak bola dan basket.
Meski jumlah cabang yang diikuti lebih sedikit, pemerintah daerah berharap kontingen tetap mampu menunjukkan daya saing. Bupati Parigi Moutong Erwin Burase meminta para atlet menjadikan keterbatasan tersebut bukan sebagai alasan untuk kehilangan semangat bertanding.
Menurut Erwin, atlet yang berangkat ke Buol membawa nama Kabupaten Parigi Moutong. Karena itu, selain mengejar prestasi, mereka diminta menunjukkan disiplin, sportivitas, tanggung jawab dan semangat juang selama kompetisi.
“Dalam sebuah pertandingan, kemenangan memang menjadi tujuan, tetapi jangan pernah menjadikan kemenangan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan,” ujar Erwin.
Bagi pemerintah daerah, keikutsertaan pada dua cabang tersebut juga menjadi kesempatan untuk mengukur hasil pembinaan olahraga pelajar. Potensi atlet yang tampil di POPDA diharapkan dapat dipetakan untuk pembinaan lebih lanjut, terutama bagi atlet yang menunjukkan kemampuan dan prospek prestasi.
Erwin menegaskan pembangunan olahraga membutuhkan pembinaan berkesinambungan. Karena itu, hasil POPDA diharapkan tidak berhenti pada perolehan medali, tetapi menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki pola pembinaan atlet pelajar di Parigi Moutong.
Dengan 29 atlet yang turun di dua cabang olahraga, Parigi Moutong kini membawa target yang sederhana namun penting: bertanding maksimal dengan sumber daya yang tersedia.
Keterbatasan anggaran memang mempersempit ruang gerak kontingen. Tetapi di arena pertandingan, pemerintah daerah berharap keterbatasan jumlah cabang tidak menjadi batas bagi prestasi.
Dua cabang olahraga menjadi pilihan tahun ini. Dari dua cabang itu pula, Parigi Moutong berharap muncul hasil terbaik sekaligus bibit atlet yang dapat dipersiapkan untuk kompetisi di tingkat yang lebih tinggi.








