Soalparigi.ID — Di balik suara letusan yang menjadi ciri olahraga menembak, ada pekerjaan yang jauh lebih panjang, menemukan bibit atlet, membentuk mental, menyediakan fasilitas, hingga memastikan olahraga ini tumbuh di tengah masyarakat dengan pemahaman yang benar.
Tantangan itulah yang kini dihadapi Pengurus Kabupaten (Pengkab) Persatuan Menembak Sasaran dan Berburu Seluruh Indonesia (Perbakin) Tolitoli setelah kepengurusan baru resmi dilantik untuk masa bakti 2025-2029.
Ketua Pengkab Perbakin Tolitoli, Moh. Asrul Bantilan, kembali dipercaya memimpin organisasi tersebut untuk periode keduanya. Pelantikan berlangsung di Aula Kediaman Bupati Tolitoli, Sabtu (3/10/2026), bersama Pengkab Perbakin Buol masa bakti 2026-2030.
Pelantikan dilakukan Ketua Pengurus Provinsi (Pengprov) Perbakin Sulawesi Tengah, H. Sarifudin A. Darmansyah, S.E.
Bagi Asrul, periode kedua bukan sekadar kelanjutan kepengurusan. Ada target yang harus dijawab, terutama bagaimana olahraga menembak dapat melahirkan atlet-atlet baru dari Tolitoli.
“Memang tantangan ini tidak ringan. Ke depannya kami harus fokus mendukung semua program kerja nyata, bagaimana kita bisa mencetak prestasi melalui olahraga menembak,” kata Asrul.
Ia melihat regenerasi sebagai pekerjaan pertama yang harus segera dilakukan. Perbakin Tolitoli tidak ingin pembinaan atlet berhenti pada nama-nama yang sudah ada. Anak-anak dan pelajar justru menjadi sasaran utama untuk mengenalkan olahraga menembak sejak dini.
“Kami harus melakukan regenerasi, mencetak kader-kader atlet menembak mulai dari anak usia dini. Jadi kita akan sasar ke tingkat pelajar untuk bisa merekrut atlet-atlet di cabang olahraga menembak,” ujarnya.
Gagasan itu sekaligus memperluas cara pandang terhadap olahraga menembak. Bukan hanya tentang kemampuan menarik pelatuk dan mengenai sasaran, tetapi juga tentang ketekunan berlatih, kedisiplinan, konsentrasi dan pembentukan mental seorang atlet.
Namun, pembinaan tidak cukup hanya dengan mencari calon atlet. Lapangan dan perlengkapan latihan juga harus tersedia. Karena itu, Asrul menyebut pemenuhan sarana dan prasarana menjadi agenda berikutnya yang akan diperjuangkan Pengkab Perbakin Tolitoli.
Di titik inilah dukungan banyak pihak menjadi penting. Asrul menekankan perlunya kolaborasi antara Perbakin dengan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), serta Pemerintah Kabupaten Tolitoli. Menurut dia, prestasi tidak mungkin dibangun hanya oleh pengurus organisasi olahraga.
“Perlu adanya sinergitas, kolaborasi, semangat kebersamaan maupun kegotongroyongan dan komitmen yang kuat dari seluruh pengurus,” katanya.
Tantangan lain datang dari kondisi anggaran. Efisiensi dan kondisi fiskal daerah turut memberi dampak terhadap pembinaan cabang olahraga, termasuk olahraga menembak.
Asrul mengakui kondisi tersebut menjadi tantangan yang harus disiasati bersama. Namun, ia menegaskan keterbatasan anggaran tidak boleh mematikan komitmen untuk membangun prestasi.
“Persoalan penganggaran ini bukan menjadi salah satu batu loncatan. Tapi betul-betul komitmen dan keinginan yang kuat dari seluruh pengurus dan jajaran Pengkab, kita bisa mencoba untuk meraih prestasi melalui olahraga menembak,” ujarnya.
Harapan berikutnya mengarah ke Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sulawesi Tengah ke-10 di Kabupaten Morowali. Perbakin Tolitoli ingin para atlet yang dipersiapkan dapat ambil bagian dan memberikan hasil terbaik. Namun, sebelum berbicara tentang medali, pekerjaan rumah Perbakin Tolitoli masih panjang. Salah satunya adalah memperkenalkan organisasi ini lebih luas kepada masyarakat.
Melalui rapat kerja daerah, Pengkab Perbakin Tolitoli merencanakan sosialisasi ke seluruh 10 kecamatan. Sosialisasi tersebut antara lain untuk memberikan pemahaman mengenai Perbakin sekaligus melakukan inventarisasi terhadap unit yang dimiliki masyarakat, seperti senapan angin dan airsoft gun.
Asrul mengajak masyarakat yang memiliki unit tersebut untuk terbuka dan menyampaikan keberadaannya agar dapat didata serta diberikan edukasi mengenai penggunaannya.
“Sebisa mungkin jangan disembunyikan, tapi disampaikan saja agar bisa diinventarisir oleh teman-teman dari jajaran Pengkab Perbakin,” katanya.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa agenda Perbakin Tolitoli tidak hanya berhenti di arena pertandingan. Ada upaya untuk membangun komunikasi dengan masyarakat sekaligus memberikan pemahaman mengenai penggunaan sarana yang berkaitan dengan olahraga menembak.
Pada akhirnya, tantangan empat tahun ke depan bagi Asrul dan jajaran pengurus bukan hanya berapa banyak pertandingan yang dapat diikuti atau berapa medali yang bisa dibawa pulang.
Ada pertanyaan yang lebih mendasar: dari mana generasi atlet menembak Tolitoli berikutnya akan lahir? Jawabannya kini diarahkan ke sekolah-sekolah, ke ruang-ruang pembinaan, ke fasilitas latihan yang harus dibenahi, dan ke kolaborasi banyak pihak.
Dari sana, Perbakin Tolitoli ingin membangun sesuatu yang lebih panjang dari sekadar satu pertandingan: tradisi pembinaan atlet yang kelak dapat membawa nama Tolitoli melalui prestasi olahraga menembak.








